Pemanfaatan geothermal dinilai penting sebagai penyeimbang sifat variabel energi surya dan angin.
“Energi terbarukan Indonesia seharusnya tidak bertumpu pada satu teknologi. Kombinasi surya, panas bumi, hidro, dan bioenergi adalah kunci menuju sistem listrik yang bersih sekaligus stabil,” tegas Tohom.
Baca Juga:
PLN Luncurkan Proyek PLTS Mentari Nusantara I 1,225 Gigawatt melalui Strategi Pengadaan Terintegrasi GIGA ONE
ALPERKLINAS juga menyoroti risiko konsentrasi rantai pasok global, terutama dominasi China pada solar PV dan elemen tanah jarang.
Menurut Tohom, ini menjadi momentum bagi pemerintah dan BUMN energi untuk mendorong industrialisasi dalam negeri.
“Transisi energi harus dibarengi transisi industri. Jika tidak, kita hanya akan menjadi pasar, bukan pemain, dan konsumen tetap menanggung risiko geopolitik serta fluktuasi harga global,” ujarnya.
Baca Juga:
Irak Tancap Gas Bangun PLTS Raksasa, Target Kurangi Krisis Listrik dan Emisi
Ke depan, ALPERKLINAS mendorong agar kebijakan transisi energi dirancang lebih konsisten, lintas pemerintahan, dan berpihak pada kepentingan publik.
Kepastian regulasi, skema pembiayaan yang sehat, serta perencanaan jaringan jangka panjang dinilai sama pentingnya dengan target bauran energi.
“Transisi energi bukan lomba cepat-cepatan, melainkan proses membangun sistem kelistrikan masa depan yang adil, berdaulat, dan melindungi konsumen,” pungkas Tohom.