KonsumenListrik.WAHANANEWS.CO - Aliansi Lembaga Perlindungan Konsumen Listrik Nasional (ALPERKLINAS) memandang proyeksi International Energy Agency (IEA) yang menunjukkan lonjakan kapasitas energi terbarukan global hingga 2030 sebagai sinyal kuat bahwa transisi energi sudah memasuki fase yang tidak dapat dibalikkan.
Dominasi solar PV yang diperkirakan menyumbang sekitar 80 persen pertumbuhan kapasitas menjadi bukti bahwa energi bersih semakin kompetitif dan diterima pasar secara luas.
Baca Juga:
Hemat Energi Listrik hingga 40 Persen, ALPERKLINAS Apresiasi SUN Energy Bantu Industri Pasang PLTS Tanpa Modal Awal
Namun demikian, Ketua Umum ALPERKLINAS, KRT Tohom Purba, menegaskan bahwa pertumbuhan kapasitas semata sebaiknya tidak menjadi satu-satunya indikator keberhasilan transisi energi.
“Bagi konsumen listrik, yang paling penting bukan hanya seberapa besar kapasitas terpasang, tetapi apakah listrik tersebut andal, terjangkau, dan aman dalam jangka panjang. Di sinilah tantangan jaringan listrik, penyimpanan energi, dan pembangkit fleksibel menjadi krusial,” ujarnya, Sabtu (24/1/2026).
ALPERKLINAS menilai peringatan IEA terkait kepayahan jaringan listrik, curtailment, hingga munculnya harga listrik negatif sebagai peringatan dini.
Baca Juga:
Daerah Mulai Atasi Sampah, MARTABAT Prabowo–Gibran Apresiasi Pemprov NTT Siapkan Energi Terbarukan dari Limbah
Menurutnya, tanpa investasi serius pada transmisi, distribusi, dan teknologi penyimpanan seperti pumped-storage hydropower dan battery energy storage, lonjakan energi terbarukan justru berisiko menciptakan inefisiensi sistem yang pada akhirnya dibebankan kepada konsumen.
“Transisi energi jangan sampai berujung pada tarif listrik yang fluktuatif atau kualitas layanan yang menurun,” katanya.
Dari perspektif nasional, ALPERKLINAS melihat Indonesia berada pada posisi strategis, khususnya dengan potensi panas bumi yang diakui IEA sebagai salah satu pasar utama dunia.
Pemanfaatan geothermal dinilai penting sebagai penyeimbang sifat variabel energi surya dan angin.
“Energi terbarukan Indonesia seharusnya tidak bertumpu pada satu teknologi. Kombinasi surya, panas bumi, hidro, dan bioenergi adalah kunci menuju sistem listrik yang bersih sekaligus stabil,” tegas Tohom.
ALPERKLINAS juga menyoroti risiko konsentrasi rantai pasok global, terutama dominasi China pada solar PV dan elemen tanah jarang.
Menurut Tohom, ini menjadi momentum bagi pemerintah dan BUMN energi untuk mendorong industrialisasi dalam negeri.
“Transisi energi harus dibarengi transisi industri. Jika tidak, kita hanya akan menjadi pasar, bukan pemain, dan konsumen tetap menanggung risiko geopolitik serta fluktuasi harga global,” ujarnya.
Ke depan, ALPERKLINAS mendorong agar kebijakan transisi energi dirancang lebih konsisten, lintas pemerintahan, dan berpihak pada kepentingan publik.
Kepastian regulasi, skema pembiayaan yang sehat, serta perencanaan jaringan jangka panjang dinilai sama pentingnya dengan target bauran energi.
“Transisi energi bukan lomba cepat-cepatan, melainkan proses membangun sistem kelistrikan masa depan yang adil, berdaulat, dan melindungi konsumen,” pungkas Tohom.