KonsumenListrik.WAHANANEWS.CO - Aliansi Lembaga Perlindungan Konsumen Listrik Nasional (ALPERKLINAS) memandang proyeksi International Energy Agency (IEA) yang menunjukkan lonjakan kapasitas energi terbarukan global hingga 2030 sebagai sinyal kuat bahwa transisi energi sudah memasuki fase yang tidak dapat dibalikkan.
Dominasi solar PV yang diperkirakan menyumbang sekitar 80 persen pertumbuhan kapasitas menjadi bukti bahwa energi bersih semakin kompetitif dan diterima pasar secara luas.
Baca Juga:
Langkah KG Media Gunakan REC PLN, ALPERKLINAS: Transisi Energi Butuh Partisipasi Korporasi
Namun demikian, Ketua Umum ALPERKLINAS, KRT Tohom Purba, menegaskan bahwa pertumbuhan kapasitas semata sebaiknya tidak menjadi satu-satunya indikator keberhasilan transisi energi.
“Bagi konsumen listrik, yang paling penting bukan hanya seberapa besar kapasitas terpasang, tetapi apakah listrik tersebut andal, terjangkau, dan aman dalam jangka panjang. Di sinilah tantangan jaringan listrik, penyimpanan energi, dan pembangkit fleksibel menjadi krusial,” ujarnya, Sabtu (24/1/2026).
ALPERKLINAS menilai peringatan IEA terkait kepayahan jaringan listrik, curtailment, hingga munculnya harga listrik negatif sebagai peringatan dini.
Baca Juga:
Ancaman Overkapasitas Sampah Tahun 2028, MARTABAT Prabowo-Gibran Nilai PLTSa Solusi Strategis
Menurutnya, tanpa investasi serius pada transmisi, distribusi, dan teknologi penyimpanan seperti pumped-storage hydropower dan battery energy storage, lonjakan energi terbarukan justru berisiko menciptakan inefisiensi sistem yang pada akhirnya dibebankan kepada konsumen.
“Transisi energi jangan sampai berujung pada tarif listrik yang fluktuatif atau kualitas layanan yang menurun,” katanya.
Dari perspektif nasional, ALPERKLINAS melihat Indonesia berada pada posisi strategis, khususnya dengan potensi panas bumi yang diakui IEA sebagai salah satu pasar utama dunia.