Ia juga mendorong agar gerakan energi surya atap menjadi kebijakan yang inklusif dan massif, dengan melibatkan masyarakat pedesaan dan pelaku UMKM.
Dalam pandangannya, desentralisasi energi adalah kunci.
Baca Juga:
Prabowo Bentuk DEN 2026–2030, Energi Jadi Pilar Strategis Pemerintahan
"Energi surya atap, mikrohidro, dan bioenergi lokal seharusnya menjadi pilar pembangunan desa. Jangan biarkan transisi energi hanya berpusat di kota dan menara kantor," ucapnya.
Tohom yang juga Putra Desa Karing, Kabupaten Dairi ini, menekankan bahwa potensi energi bersih di desa-desa seperti tempat asalnya belum tergarap optimal.
Ia menyayangkan selama ini banyak wilayah kaya potensi energi yang justru masih bergantung pada sumber listrik konvensional.
Baca Juga:
ESDM Buka-bukaan, Biomassa Ternyata Belum Siap Gantikan Batu Bara
Menurutnya, keberhasilan EBT bukan hanya soal investasi dan teknologi, tapi juga edukasi dan pelibatan publik.
“RUPTL ini adalah peluang emas. Tapi jangan jadi menara gading. Harus dieksekusi secara konkret dan inklusif. Kita tak boleh lagi menunggu bencana ekologis baru sadar pentingnya EBT,” tutup Tohom.
Sebelumnya, Dirjen Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM, Eniya Listiani Dewi, menjelaskan bahwa pembangunan EBT akan didampingi oleh pembangkit fosil sebesar 16,6 GW, yang terdiri dari 10,3 GW pembangkit gas dan 6,3 GW batubara.