Ia juga menyoroti pentingnya tata kelola perusahaan yang baik dalam setiap proyek energi terbarukan, mengingat investasi panas bumi memerlukan biaya besar dan perencanaan matang.
“Transparansi, efisiensi, dan tata kelola yang akuntabel harus menjadi standar. PLN sebagai offtaker utama punya peran kunci memastikan setiap megawatt yang dihasilkan benar-benar optimal dan tidak membebani konsumen,” ujar Tohom.
Baca Juga:
Dorong Energi Bersih Berkelanjutan, ALPERKLINAS Nilai Strategi Hijau PLN Nusantara Power Tepat Arah
ALPERKLINAS memandang sinergi PLN dan PGE juga selaras dengan target net zero emission nasional. Tohom menilai percepatan pengembangan panas bumi akan memperkuat posisi Indonesia sebagai salah satu negara dengan potensi geothermal terbesar di dunia.
“Ini momentum strategis. Jika dikelola konsisten, panas bumi bisa menjadi tulang punggung transisi energi Indonesia. PLN sedang menunjukkan kepemimpinan transformasional dengan memperluas kemitraan energi bersih,” katanya.
Sebelumnya, Direktur Operasi PGE Andi Joko Nugroho menyampaikan bahwa sinergi dengan PLN ditandai dengan kunjungan ke area Lahendong di Tomohon, Sulawesi Utara, guna membahas optimalisasi pembangkit eksisting, pengembangan proyek baru, serta kemitraan strategis kedua BUMN.
Baca Juga:
ALPERKLINAS Dukung PLTA 45 MW Pakpak Barat sebagai Proyek Strategis Ketahanan Listrik Sumut
Ia juga menegaskan komitmen PGE untuk mendukung target penurunan emisi karbon dan net zero emission melalui pengembangan energi panas bumi.
[Redaktur: Mega Puspita]