KonsumenListrik.WAHANANEWS.CO – Aliansi Lembaga Perlindungan Konsumen Listrik Nasional (ALPERKLINAS) menyambut positif sinergi antara PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE) dan PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) (PLN) dalam mempercepat pengembangan panas bumi di Sulawesi dan Sumatra.
ALPERKLINAS menilai kolaborasi dua BUMN tersebut menjadi langkah konkret memperkuat keandalan pasokan listrik sekaligus mendorong transisi energi nasional yang berkeadilan bagi konsumen.
Baca Juga:
Dorong Energi Bersih Berkelanjutan, ALPERKLINAS Nilai Strategi Hijau PLN Nusantara Power Tepat Arah
Ketua Umum ALPERKLINAS, KRT Tohom Purba, mengatakan sinergi antara PLN sebagai offtaker utama dan PGE sebagai produsen panas bumi menunjukkan arah kebijakan energi yang semakin terstruktur dan visioner.
“Kolaborasi ini bukan sekadar kerja sama bisnis, tetapi fondasi penting bagi kedaulatan energi nasional. Konsumen listrik membutuhkan jaminan pasokan yang andal, berkelanjutan, dan terjangkau. PLN mengambil posisi strategis untuk memastikan energi panas bumi benar-benar memberi manfaat langsung bagi masyarakat,” ujar Tohom.
Ia menilai percepatan pengembangan proyek greenfield dan brownfield, termasuk optimalisasi pembangkit yang telah beroperasi, mencerminkan pendekatan komprehensif dalam menjaga stabilitas sistem kelistrikan di kawasan timur dan barat Indonesia.
Baca Juga:
ALPERKLINAS Dukung PLTA 45 MW Pakpak Barat sebagai Proyek Strategis Ketahanan Listrik Sumut
“Langkah PLN bersama PGE memperkuat PLTP Lahendong dan mendorong proyek baru seperti Kotamobagu dan Sungai Penuh adalah bentuk perencanaan jangka panjang. Ini bukan hanya soal penambahan kapasitas, melainkan membangun ekosistem energi bersih yang konsisten dan berkesinambungan,” katanya.
Menurut Tohom, keberadaan PLTP Lahendong yang telah menyuplai hingga 24 persen kebutuhan listrik di Sulawesi Utara menjadi bukti bahwa panas bumi mampu menjadi tulang punggung sistem kelistrikan regional.
“Ketika energi bersih seperti panas bumi semakin dominan dalam bauran energi, maka risiko fluktuasi harga energi global bisa ditekan. Dalam jangka panjang, ini berpotensi menjaga stabilitas tarif dan memberikan perlindungan lebih kuat bagi konsumen listrik,” tegasnya.
Ia juga menyoroti pentingnya tata kelola perusahaan yang baik dalam setiap proyek energi terbarukan, mengingat investasi panas bumi memerlukan biaya besar dan perencanaan matang.
“Transparansi, efisiensi, dan tata kelola yang akuntabel harus menjadi standar. PLN sebagai offtaker utama punya peran kunci memastikan setiap megawatt yang dihasilkan benar-benar optimal dan tidak membebani konsumen,” ujar Tohom.
ALPERKLINAS memandang sinergi PLN dan PGE juga selaras dengan target net zero emission nasional. Tohom menilai percepatan pengembangan panas bumi akan memperkuat posisi Indonesia sebagai salah satu negara dengan potensi geothermal terbesar di dunia.
“Ini momentum strategis. Jika dikelola konsisten, panas bumi bisa menjadi tulang punggung transisi energi Indonesia. PLN sedang menunjukkan kepemimpinan transformasional dengan memperluas kemitraan energi bersih,” katanya.
Sebelumnya, Direktur Operasi PGE Andi Joko Nugroho menyampaikan bahwa sinergi dengan PLN ditandai dengan kunjungan ke area Lahendong di Tomohon, Sulawesi Utara, guna membahas optimalisasi pembangkit eksisting, pengembangan proyek baru, serta kemitraan strategis kedua BUMN.
Ia juga menegaskan komitmen PGE untuk mendukung target penurunan emisi karbon dan net zero emission melalui pengembangan energi panas bumi.
[Redaktur: Mega Puspita]