“Dari perspektif konsumen listrik, tata kelola seperti ini memberi rasa aman bahwa transisi energi dilakukan secara profesional dan terukur,” tegas Tohom.
Tohom juga menilai konsistensi PLN dalam mendorong elektrifikasi dan pemanfaatan EBT di sektor pertambangan akan berdampak positif bagi sistem kelistrikan nasional secara keseluruhan.
Baca Juga:
Soroti Temuan kWh Listrik di Bekas Bangunan Liar, ALPERKLINAS Dorong Penataan Sistemik
“Ketika industri besar beralih ke listrik hijau yang disediakan PLN, maka ekosistem energi nasional menjadi lebih kuat, efisien, dan berkelanjutan,” ujarnya.
ALPERKLINAS memandang inisiatif REC sebagai bukti bahwa PLN tidak hanya berperan sebagai penyedia listrik, tetapi juga sebagai agen perubahan menuju ekonomi rendah karbon.
“PLN telah menunjukkan bahwa transisi energi bisa berjalan seiring dengan keandalan pasokan dan kepentingan publik. Ini adalah arah yang tepat dan patut didukung,” pungkas Tohom.
Baca Juga:
PLN Sukses Energize GISTET dan SUTET 500 kV Paiton, ALPERKLINAS: Fondasi Penting Keandalan Listrik Nasional
Sebelumnya, Direktur Retail dan Niaga PLN Adi Priyanto menegaskan bahwa kerja sama REC merupakan bagian dari komitmen PLN menyediakan layanan listrik hijau 100 persen berbasis EBT.
Sementara itu, Chief Operating Officer PT Borneo Indobara Raden Utoro menyampaikan bahwa dukungan PLN memberi kepastian pasokan listrik andal untuk mendukung program green mining dan target nol emisi perusahaan.
[Redaktur: Mega Puspita]