Sebelumnya, Institute for Essential Services Reform (IESR) mengusulkan power wheeling sebagai solusi untuk mempercepat pengembangan energi baru terbarukan (EBT).
Menurut IESR, skema ini mampu menarik investasi, menciptakan pasar energi hijau, dan memberi pilihan langsung bagi industri yang ingin menggunakan listrik ramah lingkungan.
Baca Juga:
Tol Kutepat Kantongi SLFO Bintang 5, MARTABAT Prabowo-Gibran Apresiasi Lompatan Infrastruktur Danau Toba
“Skema ini akan mempercepat pengembangan EBT tanpa membebani anggaran negara,” kata Manajer Program Transformasi Sistem Energi IESR Deon Arinaldo dalam rapat dengar pendapat di DPR.
Ia menambahkan bahwa industri memerlukan suplai langsung dari pembangkit EBT, bukan sekadar sertifikat energi hijau seperti Renewable Energy Certificate (REC).
Namun demikian, sejumlah kalangan mengingatkan agar pelaksanaan power wheeling dilakukan secara hati-hati dan transparan, agar tidak mencederai prinsip keadilan energi dan merugikan masyarakat umum.
Baca Juga:
Dialog Mahasiswa dan BPODT Jadi Momentum Baru, MARTABAT Prabowo-Gibran Dorong Akselerasi Danau Toba
[Redaktur: Mega Puspita]