Tanpa peningkatan kapasitas listrik di sisi konsumen, transisi ke mobilitas listrik berpotensi timpang dan hanya dinikmati kelompok tertentu.
“Kita tidak bisa bicara EV secara masif jika rumah tangga masih terkungkung daya rendah. Program PLN ini memperkecil jurang itu dan sekaligus melindungi konsumen dari risiko listrik tidak andal akibat beban berlebih,” jelasnya.
Baca Juga:
Berskala Pelanggan Utilitas Global, ALPERKLINAS Desak PLN Tuntaskan Elektrifikasi 100% pada 2026
Lebih jauh, Tohom juga menilai pemanfaatan aplikasi PLN Mobile sebagai kanal utama program mencerminkan kemajuan tata kelola layanan publik berbasis digital.
Namun, ia mengingatkan pentingnya edukasi berkelanjutan agar konsumen memahami konsekuensi teknis dan manfaat jangka panjang dari tambah daya.
“Diskon ini idealnya dibarengi literasi energi. Konsumen perlu paham bahwa tambah daya bukan sekadar menaikkan angka VA, tetapi bagian dari perencanaan energi rumah tangga yang efisien, aman, dan berkelanjutan,” katanya.
Baca Juga:
ALPERKLINAS Dorong Pemerintah Beri Insentif Baru untuk Bantu Konsumen Mobil Listrik
ALPERKLINAS mendorong agar kebijakan serupa dapat diintegrasikan dengan program nasional transisi energi, termasuk insentif perangkat hemat energi dan skema khusus bagi rumah tangga pengguna kendaraan listrik.
Dengan demikian, promo tambah daya tidak berhenti sebagai stimulus sesaat, tetapi menjadi fondasi transformasi konsumsi energi nasional.
Sebelumnya, PT PLN (Persero) meluncurkan program “Tahun Baru Energi Baru” berupa diskon 50 persen biaya tambah daya listrik bagi pelanggan tegangan rendah satu fasa yang bertransaksi melalui aplikasi PLN Mobile pada periode 7–20 Januari 2026.