Ia mengingatkan agar pembangunan PLTN tidak hanya dilihat sebagai proyek prestisius, melainkan sebagai solusi baseload yang efisien dan stabil untuk menggantikan ketergantungan pada pembangkit berbasis batu bara.
“Jika dikelola dengan benar, PLTN dapat menjadi tulang punggung sistem kelistrikan nasional yang bersih, andal, dan dalam jangka panjang berpotensi menekan biaya produksi listrik,” ucapnya.
Baca Juga:
Strategi Cepat Kejar NZE 2060, ALPERKLINAS: Co-Firing Biomassa Efektif sebagai Quick Win Transisi Energi
ALPERKLINAS juga menggarisbawahi pentingnya alih teknologi dan penguatan rantai industri dalam negeri.
Menurut Tohom, target operasional PLTN pada 2032 harus dimanfaatkan untuk menyiapkan regulasi, skema pembiayaan yang sehat, serta mekanisme perlindungan konsumen sejak dini.
“Kami mendorong agar negara tidak hanya membeli teknologi, tetapi membangun kapasitas nasional. Di sinilah peran riset dan pendidikan menjadi sangat krusial,” tegasnya.
Baca Juga:
ESDM Buka-bukaan, Biomassa Ternyata Belum Siap Gantikan Batu Bara
Ia menilai sinergi antara PLN, perguruan tinggi, dan pemangku kepentingan lainnya akan menjadi penentu keberhasilan agenda transisi energi nasional.
Dengan perencanaan matang dan pengawasan publik yang kuat, Tohom optimis energi nuklir dapat menjadi bagian dari solusi jangka panjang ketahanan energi Indonesia.
“Transisi energi adalah keniscayaan. Yang kita butuhkan adalah keberanian mengambil langkah strategis dengan tetap mengutamakan keselamatan dan kepentingan konsumen,” tutup Tohom.