Ia mengingatkan agar pembangunan PLTN tidak hanya dilihat sebagai proyek prestisius, melainkan sebagai solusi baseload yang efisien dan stabil untuk menggantikan ketergantungan pada pembangkit berbasis batu bara.
“Jika dikelola dengan benar, PLTN dapat menjadi tulang punggung sistem kelistrikan nasional yang bersih, andal, dan dalam jangka panjang berpotensi menekan biaya produksi listrik,” ucapnya.
Baca Juga:
ALPERKLINAS Dukung Kopdeskel Hadirkan PLTS, Terangi Wilayah Sulit Dijangkau
ALPERKLINAS juga menggarisbawahi pentingnya alih teknologi dan penguatan rantai industri dalam negeri.
Menurut Tohom, target operasional PLTN pada 2032 harus dimanfaatkan untuk menyiapkan regulasi, skema pembiayaan yang sehat, serta mekanisme perlindungan konsumen sejak dini.
“Kami mendorong agar negara tidak hanya membeli teknologi, tetapi membangun kapasitas nasional. Di sinilah peran riset dan pendidikan menjadi sangat krusial,” tegasnya.
Baca Juga:
Hadapi Risiko Energi Global, PLN Watch Dukung Strategi Energi Bersih Nasional
Ia menilai sinergi antara PLN, perguruan tinggi, dan pemangku kepentingan lainnya akan menjadi penentu keberhasilan agenda transisi energi nasional.
Dengan perencanaan matang dan pengawasan publik yang kuat, Tohom optimis energi nuklir dapat menjadi bagian dari solusi jangka panjang ketahanan energi Indonesia.
“Transisi energi adalah keniscayaan. Yang kita butuhkan adalah keberanian mengambil langkah strategis dengan tetap mengutamakan keselamatan dan kepentingan konsumen,” tutup Tohom.