KonsumenListrik.WAHANANEWS.CO – Aliansi Lembaga Perlindungan Konsumen Listrik Nasional (ALPERKLINAS) menyambut positif penguatan kolaborasi riset nuklir antara PLN dengan perguruan tinggi nasional sebagai langkah strategis mempercepat transisi energi di Indonesia.
ALPERKLINAS menilai keterlibatan dunia akademik dalam pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) merupakan fondasi penting untuk memastikan aspek keamanan, kemandirian teknologi, serta perlindungan kepentingan konsumen listrik di masa depan.
Baca Juga:
Strategi Cepat Kejar NZE 2060, ALPERKLINAS: Co-Firing Biomassa Efektif sebagai Quick Win Transisi Energi
Ketua Umum ALPERKLINAS, KRT Tohom Purba, menegaskan bahwa transisi energi nasional tidak bisa lagi ditunda dan harus dikelola secara terencana, ilmiah, serta berpihak pada kepentingan publik.
“Transisi energi berarti mengubah paradigma pengelolaan energi nasional agar lebih berdaulat, berkeadilan, dan berkelanjutan. Kolaborasi riset nuklir ini menunjukkan keseriusan negara menyiapkan masa depan energi,” ujar Tohom, Jumat (23/1/2026).
Menurut Tohom, pelibatan perguruan tinggi seperti ITS dan ITPLN merupakan langkah visioner karena PLTN menuntut standar keselamatan tinggi, penguasaan teknologi, serta kesiapan sumber daya manusia jangka panjang.
Baca Juga:
ESDM Buka-bukaan, Biomassa Ternyata Belum Siap Gantikan Batu Bara
Ia menilai pendekatan berbasis riset akan meminimalkan risiko, sekaligus meningkatkan kepercayaan publik terhadap pemanfaatan energi nuklir.
“Kampus bukan hanya sebagai penyedia tenaga ahli, tetapi juga penjaga nalar kritis agar kebijakan energi tetap akuntabel dan transparan,” katanya.
Tohom menambahkan, dari perspektif konsumen listrik, kehadiran PLTN harus dipastikan memberikan manfaat nyata berupa keandalan pasokan dan keterjangkauan tarif.
Ia mengingatkan agar pembangunan PLTN tidak hanya dilihat sebagai proyek prestisius, melainkan sebagai solusi baseload yang efisien dan stabil untuk menggantikan ketergantungan pada pembangkit berbasis batu bara.
“Jika dikelola dengan benar, PLTN dapat menjadi tulang punggung sistem kelistrikan nasional yang bersih, andal, dan dalam jangka panjang berpotensi menekan biaya produksi listrik,” ucapnya.
ALPERKLINAS juga menggarisbawahi pentingnya alih teknologi dan penguatan rantai industri dalam negeri.
Menurut Tohom, target operasional PLTN pada 2032 harus dimanfaatkan untuk menyiapkan regulasi, skema pembiayaan yang sehat, serta mekanisme perlindungan konsumen sejak dini.
“Kami mendorong agar negara tidak hanya membeli teknologi, tetapi membangun kapasitas nasional. Di sinilah peran riset dan pendidikan menjadi sangat krusial,” tegasnya.
Ia menilai sinergi antara PLN, perguruan tinggi, dan pemangku kepentingan lainnya akan menjadi penentu keberhasilan agenda transisi energi nasional.
Dengan perencanaan matang dan pengawasan publik yang kuat, Tohom optimis energi nuklir dapat menjadi bagian dari solusi jangka panjang ketahanan energi Indonesia.
“Transisi energi adalah keniscayaan. Yang kita butuhkan adalah keberanian mengambil langkah strategis dengan tetap mengutamakan keselamatan dan kepentingan konsumen,” tutup Tohom.
Sebelumnya, General Manajer PLN Pusat Penelitian dan Pengembangan (Puslitbang) Ketenagalistrikan Mochammad Soleh mengajak Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) dan Institut Teknologi PLN (ITPLN) untuk berkolaborasi mengembangkan pembangunan PLTN pertama di Indonesia yang ditargetkan beroperasi pada 2032.
Pemerintah merencanakan pembangunan PLTN di wilayah Sumatera dan Kalimantan dengan kapasitas masing-masing hingga 250 MW, serta melibatkan ribuan sumber daya manusia lintas disiplin ilmu.
[Redaktur: Mega Puspita]