Ia menilai kepemimpinan transformasional menjadi faktor kunci dalam memastikan transformasi berjalan konsisten dan terukur.
“Transformasi organisasi, peningkatan kompetensi SDM, hingga pembaruan tools kerja adalah fondasi penting untuk menjawab tantangan Net Zero Emission 2060. Jika engineering-nya kuat, maka transisi energi akan lebih terencana, tidak sporadis, dan tetap menjaga kepentingan konsumen,” ucapnya.
Baca Juga:
821 Petugas PLN Bekerja Nonstop, Pemulihan Listrik Aceh Tembus 65 Persen
Lebih jauh, ALPERKLINAS memandang bahwa penguatan tata kelola dan inovasi berbasis teknologi akan berdampak pada efisiensi biaya jangka panjang.
Efisiensi tersebut pada akhirnya berkontribusi terhadap stabilitas tarif dan peningkatan kualitas layanan kepada masyarakat.
“Visi besar menuju energi bersih harus berjalan beriringan dengan perlindungan konsumen. Kami melihat langkah PLN Enjiniring sudah berada pada jalur yang tepat, yakni memperkuat infrastruktur sekaligus menyiapkan sistem yang adaptif terhadap energi terbarukan,” tambah Tohom.
Baca Juga:
Interkoneksi Segera Aktif, PLN Siapkan Penyalaan PLTU Nagan Raya Aceh
Menurutnya, sinergi antara korporasi engineering, regulator, dan lembaga perlindungan konsumen perlu terus diperkuat agar transformasi sektor ketenagalistrikan berjalan inklusif dan transparan.
Sebelumnya, PT Prima Layanan Nasional Enjiniring (PLN Enjiniring) meraih dua penghargaan dalam ajang Indonesia Top Achievements of the Year (ITAY) 2026, yakni Excellence in Engineering Partnership for National Energy Infrastructure 2026 untuk kategori perusahaan dan Best Transformational Leader in Energy Engineering 2026 yang diberikan kepada Direktur Utama Chairani Rachmatullah.
Penghargaan tersebut diberikan atas komitmen inovasi engineering, penguatan infrastruktur ketenagalistrikan, serta transformasi digital yang mendukung agenda transisi energi nasional.