KonsumenListrik.WAHANANEWS.CO – Aliansi Lembaga Perlindungan Konsumen Listrik Nasional (ALPERKLINAS) menilai lonjakan konsumsi listrik di Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) hingga 479 persen selama periode Siaga Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 (Nataru) sebagai penanda penting perubahan perilaku konsumen energi di Indonesia.
"Fenomena ini menunjukkan bahwa kendaraan listrik (EV) tak lagi diposisikan sebagai moda alternatif jarak pendek saja, melainkan jadi pilihan utama masyarakat untuk mobilitas jarak jauh lintas wilayah," kata Ketua Umum ALPERKLINAS, KRT Tohom Purba, Rabu (7/1/2025).
Baca Juga:
PLN Hadirkan SPKLU Center di Jakarta Selatan! Isi Daya Kendaraan Listrik Makin Cepat
Menurutnya, data tersebut sebagai bukti bahwa transisi energi berbasis listrik telah memasuki fase konsumen massal (mainstream).
"Namun, di saat yang sama, kondisi ini juga membuka tantangan baru bagi tata kelola ketenagalistrikan nasional, terutama terkait keandalan pasokan, keadilan akses layanan SPKLU, transparansi biaya pengisian, serta perlindungan hak-hak konsumen di tengah lonjakan permintaan," bebernya.
Tohom menegaskan lonjakan pengisian daya EV saat Nataru merupakan sinyal strategis yang perlu dibaca sebagai penanda penting bagi arah kebijakan, bukan sekadar keberhasilan infrastruktur.
Baca Juga:
PLN Hadirkan AntreEV dan Trip Planner, Dukung Kelancaran Arus Balik Kendaraan Listrik
“Listrik kini menjadi ‘bahan bakar utama’ mobilitas nasional, dan itu menuntut tata kelola yang jauh lebih matang, adil, dan berpihak pada konsumen,” sambungnya.
Menurut Tohom, keberhasilan PLN dalam menyiapkan ribuan SPKLU dan dukungan digital seperti Trip Planner serta AntreEV patut diapresiasi.
Namun, ia mengingatkan bahwa semakin tingginya ketergantungan konsumen pada SPKLU juga berarti meningkatnya risiko baru, mulai dari potensi antrean panjang, disparitas layanan antarwilayah, hingga isu keterjangkauan tarif pengisian bagi masyarakat luas.
“Ke depan, konsumen EV harus dipastikan tidak menjadi korban euforia transisi energi. Negara wajib hadir memastikan standar layanan, kepastian harga, dan keandalan pasokan tetap terjaga, bahkan saat beban sistem melonjak seperti periode Nataru,” katanya.
Tohom juga menyoroti bahwa lonjakan penggunaan EV saat mudik dan liburan membuktikan kesiapan teknologi, tetapi sekaligus menguji ketahanan sistem kelistrikan nasional.
Ia menilai, momentum ini harus dimanfaatkan untuk memperkuat perencanaan jangka panjang, termasuk integrasi energi baru terbarukan, pemerataan SPKLU di luar Jawa, serta penguatan regulasi perlindungan konsumen listrik berbasis kendaraan listrik.
“Transisi energi yang bermartabat adalah transisi yang menempatkan konsumen sebagai subjek, bukan sekadar pengguna. Lonjakan 479 persen ini adalah pesan keras bahwa kebijakan listrik nasional harus bergerak lebih visioner,” pungkasnya.
[Redaktur: Mega Puspita]