Namun demikian, ia mengingatkan bahwa transformasi harus tetap berorientasi pada kepentingan konsumen.
“Transformasi yang dilakukan PLN harus terus diarahkan untuk meningkatkan kualitas layanan, transparansi, serta perlindungan hak konsumen. Pertumbuhan penjualan listrik tidak boleh mengabaikan aspek keadilan dan kenyamanan pengguna,” tegasnya.
Baca Juga:
ALPERKLINAS Dukung Kopdeskel Hadirkan PLTS, Terangi Wilayah Sulit Dijangkau
Dominasi sektor rumah tangga sebagai kontributor terbesar konsumsi listrik nasional, dengan porsi sekitar 41,99 persen, menurut Tohom menunjukkan besarnya ketergantungan masyarakat pada layanan kelistrikan.
Hal ini menuntut perhatian serius terhadap stabilitas pasokan dan mutu layanan di tingkat pelanggan.
“Rumah tangga adalah konsumen terbesar. Maka setiap kebijakan kelistrikan harus mempertimbangkan dampaknya secara langsung terhadap kehidupan sehari-hari masyarakat,” ujarnya.
Baca Juga:
Dukung Penyelenggaraan Asia-Electricity Connect 2026, ALPERKLINAS: Momentum Strategis Percepat Transisi Energi Nasional
Sementara itu, meningkatnya konsumsi listrik di sektor industri dan bisnis, termasuk data center, pusat perbelanjaan, dan logistik, dinilai sebagai tanda menguatnya struktur ekonomi nasional.
Meski demikian, Tohom mengingatkan pentingnya keseimbangan distribusi energi.
“Kami mendorong agar pertumbuhan sektor besar tidak mengorbankan kepentingan konsumen kecil. Prinsip keadilan energi harus menjadi fondasi kebijakan kelistrikan ke depan,” katanya.