KonsumenListrik.WAHANANEWS.CO – Aliansi Lembaga Perlindungan Konsumen Listrik Nasional (ALPERKLINAS) menyambut positif pertumbuhan konsumsi listrik nasional sepanjang 2025 yang dinilai sebagai sinyal kuat membaiknya aktivitas ekonomi dan meningkatnya produktivitas masyarakat.
Kenaikan penjualan listrik hingga 317,69 terawatt hour (TWh), tumbuh 3,75 persen secara year on year (YoY), dipandang mencerminkan pergerakan ekonomi yang semakin luas di sektor rumah tangga, industri, dan bisnis.
Baca Juga:
ALPERKLINAS Apresiasi Sinergi PLN–Polresta Serang Jaga Keandalan Listrik Banten
Ketua Umum ALPERKLINAS, KRT Tohom Purba, menyatakan bahwa pertumbuhan konsumsi listrik merupakan indikator penting dari denyut ekonomi nasional.
“Ketika konsumsi listrik tumbuh secara sehat, itu menandakan aktivitas ekonomi bergerak dan masyarakat kembali produktif. Dari sudut pandang konsumen, ini adalah sinyal baik bagi pertumbuhan ekonomi nasional,” ujar Tohom, Minggu (1/2/2026).
Ia menilai dukungan pemerintah serta sinergi lintas lembaga dalam menjaga ketahanan sektor ketenagalistrikan patut diapresiasi, terlebih di tengah tekanan geopolitik dan ketidakpastian ekonomi global.
Baca Juga:
Kebutuhan Listrik Meningkat, PLN Hadirkan Layanan Tambah Daya Lewat PLN Mobile
Menurutnya, keberlanjutan pasokan listrik yang andal menjadi prasyarat utama agar pertumbuhan ekonomi dapat terjaga.
“Listrik bukan hanya komoditas, tetapi infrastruktur dasar pembangunan. Ketika pasokannya stabil dan pelayanannya membaik, maka iklim usaha dan aktivitas masyarakat ikut menguat,” katanya.
Tohom juga menyoroti peran transformasi PLN yang dinilai berkontribusi pada kesiapan sistem kelistrikan nasional dalam merespons pertumbuhan permintaan listrik.
Namun demikian, ia mengingatkan bahwa transformasi harus tetap berorientasi pada kepentingan konsumen.
“Transformasi yang dilakukan PLN harus terus diarahkan untuk meningkatkan kualitas layanan, transparansi, serta perlindungan hak konsumen. Pertumbuhan penjualan listrik tidak boleh mengabaikan aspek keadilan dan kenyamanan pengguna,” tegasnya.
Dominasi sektor rumah tangga sebagai kontributor terbesar konsumsi listrik nasional, dengan porsi sekitar 41,99 persen, menurut Tohom menunjukkan besarnya ketergantungan masyarakat pada layanan kelistrikan.
Hal ini menuntut perhatian serius terhadap stabilitas pasokan dan mutu layanan di tingkat pelanggan.
“Rumah tangga adalah konsumen terbesar. Maka setiap kebijakan kelistrikan harus mempertimbangkan dampaknya secara langsung terhadap kehidupan sehari-hari masyarakat,” ujarnya.
Sementara itu, meningkatnya konsumsi listrik di sektor industri dan bisnis, termasuk data center, pusat perbelanjaan, dan logistik, dinilai sebagai tanda menguatnya struktur ekonomi nasional.
Meski demikian, Tohom mengingatkan pentingnya keseimbangan distribusi energi.
“Kami mendorong agar pertumbuhan sektor besar tidak mengorbankan kepentingan konsumen kecil. Prinsip keadilan energi harus menjadi fondasi kebijakan kelistrikan ke depan,” katanya.
Dengan bertambahnya 3,29 juta pelanggan baru hingga total mencapai 96,2 juta pelanggan pada akhir 2025, Tohom menilai sektor kelistrikan memasuki fase strategis.
“Pertumbuhan ini harus dijaga dengan penguatan infrastruktur, pengawasan layanan, serta dialog berkelanjutan antara PLN, pemerintah, dan lembaga perlindungan konsumen agar manfaat pertumbuhan ekonomi benar-benar dirasakan rakyat,” pungkasnya.
[Redaktur: Mega Puspita]