“Kalau pasokan bahan bakar lebih stabil dan berasal dari dalam negeri, maka risiko gangguan pasokan listrik akibat fluktuasi energi global juga dapat ditekan. Ini penting untuk melindungi kepentingan konsumen listrik di seluruh Indonesia,” katanya.
Tohom menyebut program B50 juga membuka peluang terciptanya efek berantai terhadap pertumbuhan ekonomi nasional.
Baca Juga:
Blackout Sumatera Diselidiki, PLN Watch Ajak Masyarakat Tetap Percaya pada Proses Pemulihan PLN
Selain menghemat devisa negara hingga ratusan triliun rupiah, implementasi biodiesel dinilai mampu memperkuat industri sawit domestik, menciptakan lapangan kerja baru, serta meningkatkan aktivitas ekonomi daerah.
“Ekosistem energi nasional akan bergerak lebih sehat. Petani sawit memperoleh manfaat, industri biodiesel berkembang, kebutuhan energi dalam negeri terpenuhi, dan masyarakat menikmati pasokan listrik yang lebih andal,” ucapnya.
Tohom yang juga Ketua Umum PLN Watch ini mengatakan pengembangan bioenergi perlu terus dikawal agar tetap mengedepankan kualitas bahan bakar, kesiapan teknologi mesin, dan keberlanjutan lingkungan. Ia meminta seluruh proses pengujian B50 dilakukan secara transparan dan berbasis standar teknis yang ketat.
Baca Juga:
PLN EPI Teken Kontrak LNG Rp360 Triliun, ALPERKLINAS: Langkah Visioner Menuju Energi Masa Depan
“Kalau kualitasnya terjaga dan infrastrukturnya siap, maka B50 bisa menjadi fondasi penting menuju sistem energi nasional yang lebih modern, efisien, dan ramah lingkungan,” katanya.
Ia juga mengapresiasi langkah pemerintah yang melakukan uji jalan B50 secara serentak di berbagai sektor mulai dari otomotif, alat berat pertambangan, transportasi laut, perkeretaapian hingga pembangkit listrik.
“Pendekatan seperti ini menunjukkan pemerintah tidak berjalan secara parsial. Semua sektor diuji bersama agar implementasinya matang dan tidak menimbulkan gangguan di lapangan,” ujar Tohom.