Dengan memanfaatkan energi terbarukan seperti surya dan panas bumi, ketergantungan terhadap energi fosil impor dapat ditekan, sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional.
“Kalau hidrogen hijau ini dikembangkan secara masif dan efisien, Indonesia tidak hanya menjadi pasar kendaraan ramah lingkungan, tetapi juga produsen teknologi dan energi bersih. Ini yang harus kita kawal bersama,” tambahnya.
Baca Juga:
PLN UID Jabar Perkuat Kompetensi EV Siswa SMKN 8 Bandung
Tohom memandang bahwa sinergi lintas sektor—antara BUMN, pemerintah, industri otomotif, dan akademisi—menjadi kunci percepatan ekosistem hidrogen.
Ia mengapresiasi dukungan pemerintah terhadap inisiatif PLN IP, karena kolaborasi kebijakan dan inovasi teknologi akan mempercepat transformasi industri nasional.
Lebih jauh, ia menilai potensi hidrogen tidak terbatas pada transportasi. Dalam jangka panjang, hidrogen dapat dimanfaatkan untuk pembangkitan listrik dan kebutuhan industri skala besar, sehingga membuka peluang investasi baru dan penciptaan lapangan kerja hijau.
Baca Juga:
PLN UID Jabar Perkuat Ekosistem EV di Tengah Lonjakan Pengguna
“Tohom menyimpulkan bahwa langkah PLN IP adalah fondasi penting bagi arsitektur energi masa depan Indonesia. Tantangannya kini adalah konsistensi, keberlanjutan investasi, serta regulasi yang adaptif agar ekosistem ini benar-benar tumbuh,” ujarnya.
Sebelumnya, Direktur Utama PT PLN Indonesia Power, Bernadus Sudarmanta, menegaskan bahwa pengembangan hidrogen hijau merupakan pilar strategis dalam transformasi energi nasional dan kunci memperkuat ketahanan energi berbasis sumber daya domestik.
Dukungan juga disampaikan Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita yang mendorong inovasi kendaraan berbasis energi bersih agar Indonesia menjadi pemain utama industri otomotif ramah lingkungan.