Tohom menambahkan bahwa pengembangan biomassa di Gorontalo melalui pendekatan pentahelix juga menunjukkan bahwa PLN EPI tidak hanya berorientasi pada target net zero emission (NZE), tetapi juga membangun pusat pertumbuhan ekonomi baru di daerah.
Menurutnya, keterlibatan masyarakat, akademisi, pemerintah, BUMN, swasta, dan media akan memperkuat keberhasilan proyek sekaligus memperluas manfaat sosial dan ekonomi bagi masyarakat sekitar.
Baca Juga:
Hasilkan Bioenergi Tinggi, Tanaman Sawit Paling Hemat Air
Tohom yang juga Ketua Umum PLN Watch mengatakan bahwa langkah PLN EPI merupakan contoh konkret bagaimana transformasi sektor energi dapat dilakukan secara inklusif dan menghasilkan multiplier effect yang besar bagi bangsa.
“Jika model ini direplikasi di berbagai daerah, Indonesia tidak hanya mampu menurunkan emisi, tetapi juga membuka lapangan kerja, meningkatkan pendapatan masyarakat, dan memperkuat posisi negara sebagai pemain utama bioenergi di kawasan Asia,” ujarnya.
ALPERKLINAS memandang kerja sama PLN EPI dan PT Sorbu Agro Energi sebagai tonggak penting dalam membangun kemandirian energi nasional. Dengan memanfaatkan potensi lokal secara optimal, PLN dinilai semakin membuktikan perannya sebagai motor pembangunan yang menghadirkan manfaat nyata bagi konsumen dan masyarakat luas.
Baca Juga:
Kejar Target Bauran EBT 23 Persen, PLN dan Kementerian ESDM Gelar Seminar Bioenergi
Sebelumnya, PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) menandatangani Memorandum of Understanding (MoU) dengan PT Sorbu Agro Energi untuk mengembangkan bioenergi berbasis sorgum.
Direktur Biomassa PLN EPI Hokkop Situngkir menyatakan bahwa biomassa memiliki keunggulan dalam mereduksi emisi karbon secara langsung melalui substitusi batu bara pada pembangkit listrik.
Saat ini PLN EPI telah mengembangkan hampir 14 jenis biomassa dan mengamankan kontrak pasokan sekitar 1 juta ton melalui hampir 100 kerja sama dengan berbagai mitra.