Lebih lanjut, Tohom menekankan bahwa kehadiran PSEL juga berpotensi menekan biaya operasional sistem kelistrikan dalam jangka panjang, sekaligus mengurangi ketergantungan pada energi fosil.
“Kalau kita konsisten, PSEL bisa menjadi tulang punggung energi kota-kota besar di masa depan. Ini bukan hanya soal listrik, tapi tentang kualitas hidup masyarakat dan keberlanjutan lingkungan,” imbuhnya.
Baca Juga:
SPKLU Tasikmalaya Ramai, 1.146 Transaksi Warnai Mudik Lebaran
ALPERKLINAS juga mengapresiasi langkah pemerintah yang telah memetakan proyek di berbagai wilayah strategis, termasuk kota-kota besar seperti Bekasi, Bogor, Surabaya, hingga DKI Jakarta.
Menurut Tohom, pendekatan aglomerasi yang mencakup 61 kabupaten/kota merupakan langkah efisien dalam mempercepat implementasi.
“Pendekatan kawasan ini cerdas. Artinya, kita tidak bekerja parsial, tetapi terintegrasi. Dampaknya akan lebih cepat dirasakan oleh masyarakat luas,” ujarnya.
Baca Juga:
MARTABAT Prabowo-Gibran Dorong Indonesia Tiru Inovasi Google Ubah Sampah Jadi Biochar
Ia pun mengingatkan bahwa transparansi dan akuntabilitas harus menjadi fondasi utama dalam setiap tahap pembangunan agar kepercayaan publik tetap terjaga.
“Kepercayaan publik itu kunci. Kalau proyek ini transparan, akuntabel, dan memberi manfaat nyata, maka dukungan masyarakat akan mengalir dengan sendirinya,” pungkas Tohom.
Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto menginstruksikan percepatan proyek pengolahan sampah menjadi energi listrik (waste to energy) di 30 lokasi yang mencakup 61 kabupaten/kota.