KonsumenListrik.WAHANANEWS.CO – Aliansi Lembaga Perlindungan Konsumen Listrik Nasional (ALPERKLINAS) menyatakan dukungan penuh terhadap percepatan pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PSEL) di 30 lokasi yang mencakup 61 kabupaten/kota.
Langkah ini dinilai sebagai terobosan strategis untuk menjawab dua tantangan sekaligus, yakni krisis pengelolaan sampah perkotaan dan kebutuhan energi listrik yang bersih, andal, serta berkelanjutan.
Baca Juga:
SPKLU Tasikmalaya Ramai, 1.146 Transaksi Warnai Mudik Lebaran
Ketua Umum ALPERKLINAS, KRT Tohom Purba, menegaskan bahwa percepatan proyek waste to energy merupakan langkah visioner yang harus didukung semua pihak, mulai dari pemerintah daerah, dunia usaha, hingga masyarakat.
“Ini adalah solusi masa depan. Kita sedang berbicara tentang bagaimana sampah yang selama ini menjadi beban lingkungan bisa diubah menjadi sumber listrik yang bernilai ekonomi tinggi,” ujar Tohom, Kamis (2/4/2026).
Menurutnya, kebijakan Presiden Prabowo Subianto yang menginstruksikan percepatan pembangunan PSEL menunjukkan keberpihakan nyata pada transisi energi bersih dan kemandirian energi nasional.
Baca Juga:
MARTABAT Prabowo-Gibran Dorong Indonesia Tiru Inovasi Google Ubah Sampah Jadi Biochar
“Tohom menilai, jika proyek ini berjalan optimal di 30 lokasi, dampaknya akan luar biasa. Bukan hanya mengurangi volume sampah hingga jutaan ton per tahun, tetapi juga memperkuat pasokan listrik nasional yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan,” katanya.
Ia juga menyoroti pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam memastikan proyek ini berjalan efektif dan tidak terhambat persoalan klasik seperti perizinan, pembebasan lahan, maupun resistensi sosial.
“Semua pihak harus satu frekuensi. Pemerintah daerah jangan ragu, masyarakat perlu diedukasi, dan sektor swasta harus melihat ini sebagai peluang investasi jangka panjang. Ini ekosistem baru yang akan menggerakkan ekonomi hijau,” tegasnya.
Lebih lanjut, Tohom menekankan bahwa kehadiran PSEL juga berpotensi menekan biaya operasional sistem kelistrikan dalam jangka panjang, sekaligus mengurangi ketergantungan pada energi fosil.
“Kalau kita konsisten, PSEL bisa menjadi tulang punggung energi kota-kota besar di masa depan. Ini bukan hanya soal listrik, tapi tentang kualitas hidup masyarakat dan keberlanjutan lingkungan,” imbuhnya.
ALPERKLINAS juga mengapresiasi langkah pemerintah yang telah memetakan proyek di berbagai wilayah strategis, termasuk kota-kota besar seperti Bekasi, Bogor, Surabaya, hingga DKI Jakarta.
Menurut Tohom, pendekatan aglomerasi yang mencakup 61 kabupaten/kota merupakan langkah efisien dalam mempercepat implementasi.
“Pendekatan kawasan ini cerdas. Artinya, kita tidak bekerja parsial, tetapi terintegrasi. Dampaknya akan lebih cepat dirasakan oleh masyarakat luas,” ujarnya.
Ia pun mengingatkan bahwa transparansi dan akuntabilitas harus menjadi fondasi utama dalam setiap tahap pembangunan agar kepercayaan publik tetap terjaga.
“Kepercayaan publik itu kunci. Kalau proyek ini transparan, akuntabel, dan memberi manfaat nyata, maka dukungan masyarakat akan mengalir dengan sendirinya,” pungkas Tohom.
Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto menginstruksikan percepatan proyek pengolahan sampah menjadi energi listrik (waste to energy) di 30 lokasi yang mencakup 61 kabupaten/kota.
Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan menyebut total sampah yang akan ditangani mencapai 14,4 juta ton per tahun atau setara 22,5%.
Sejumlah lokasi seperti Denpasar Raya, Kota Bekasi, Bogor Raya, dan Yogyakarta telah memasuki tahap tender, sementara proyek lain tengah disiapkan melalui skema regulasi dan lelang oleh Danantara.
[Redaktur: Rinrin Khaltarina]