Tohom juga menekankan pentingnya menjadikan pengalaman ini sebagai dasar penguatan desain jaringan.
“Kita perlu memastikan bahwa pembelajaran dari Sumatra Barat diterjemahkan menjadi kebijakan teknis, mulai dari penguatan jaringan tahan bencana, peningkatan kualitas peralatan, hingga digitalisasi sistem pemantauan. Ketahanan listrik bukan sekadar urusan teknis, tetapi bagian dari perlindungan konsumen,” ujarnya.
Baca Juga:
PLN Pulihkan Listrik di 261 Kampung, Aceh Tengah Masuki Fase Pemulihan Pascabencana
Ia juga mengapresiasi gotong royong seluruh pihak dalam proses pemulihan.
“Koordinasi lintas lembaga yang solid seperti ini harus menjadi standar. Ketika infrastruktur publik terdampak, respons cepat adalah bentuk paling nyata dari negara hadir,” tegas Tohom.
Lebih jauh, Tohom menyoroti bahwa masyarakat membutuhkan jaminan keberlanjutan layanan pascabencana.
Baca Juga:
Menjemput Terang di Ujung Aceh, Kisah Perjuangan PLN ke Desa Terisolir
“Setelah listrik menyala, tugas berikutnya adalah memastikan stabilitas sistem dan komunikasi yang transparan kepada masyarakat. Ini penting agar kepercayaan publik tetap terjaga,” tutupnya.
Sebelumnya, Gubernur Sumatra Barat, Mahyeldi Ansharullah, menyampaikan apresiasi atas langkah cepat PLN dan kolaborasi lintas sektor dalam pemulihan kelistrikan di berbagai wilayah terdampak. Menurutnya, aktivitas masyarakat kini perlahan kembali normal.
Direktur Utama PLN, Darmawan Prasodjo, menegaskan bahwa listrik merupakan kebutuhan dasar bagi masyarakat terdampak, sehingga seluruh personel bekerja 24 jam penuh untuk memastikan suplai kembali tersalurkan.