“Ketika konsumen merasakan penghematan biaya perjalanan hingga separuh dari penggunaan kendaraan konvensional, maka kendaraan listrik akan semakin mudah diterima sebagai pilihan ekonomi rumah tangga,” ucap Tohom.
Tohom menilai tren positif di Parepare dapat menjadi model bagi daerah lain dalam membangun layanan SPKLU berbasis kebutuhan jalur perjalanan, pusat ekonomi, kawasan wisata, dan titik transit antardaerah.
Baca Juga:
Promo Tambah Daya PLN Disambut Positif, ALPERKLINAS: Layanan Kelistrikan Makin Dekat dengan Konsumen
“PLN perlu terus membaca pola perjalanan masyarakat, karena SPKLU yang ditempatkan di titik strategis akan menjadi penggerak utama kepercayaan konsumen terhadap kendaraan listrik,” katanya.
Ia berharap perluasan SPKLU di Sulawesi Selatan dapat berjalan beriringan dengan edukasi publik mengenai keselamatan pengisian daya, penggunaan aplikasi digital, efisiensi biaya, dan manfaat kendaraan listrik bagi lingkungan.
“Transisi energi akan berhasil bila konsumen merasa dilindungi, dilayani, dan diberi informasi yang jelas, karena konsumen adalah pusat dari seluruh perubahan menuju energi bersih,” ujar Tohom.
Baca Juga:
Digital Edge Gandeng PLN untuk Pasokan 1,45 GW, ALPERKLINAS: Keandalan Listrik Jadi Kunci Daya Saing
Sebelumnya, Tim Leader Sales Retail PLN UP3 Parepare, Arif Indra Wibowo, menyampaikan transaksi SPKLU di wilayah Parepare dan sekitarnya mencapai sekitar 3.000 transaksi hingga April 2026, naik dari sekitar 1.500 transaksi pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Sebelumnya, Arif juga menjelaskan PLN UP3 Parepare saat ini mengoperasikan tujuh unit SPKLU di Ajatappareng, terdiri dari tiga unit di Parepare, dua di Sidrap, satu di Barru, dan satu di Soppeng.
Sebelumnya, pengguna kendaraan listrik bernama Rudiansyah menilai penggunaan EV mampu menekan biaya perjalanan Makassar-Parepare pulang-pergi dari sekitar Rp300.000 untuk BBM menjadi sekitar Rp150.000 untuk pengisian daya penuh.