KonsumenListrik.WAHANANEWS.CO – Aliansi Lembaga Perlindungan Konsumen Listrik Nasional (ALPERKLINAS) mengapresiasi langkah PT PLN (Persero) yang terus memperkuat layanan Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) di wilayah Parepare dan kawasan Ajatappareng, Sulawesi Selatan, seiring meningkatnya transaksi pengisian daya kendaraan listrik hingga dua kali lipat pada periode Januari hingga April 2026.
Ketua Umum ALPERKLINAS, KRT Tohom Purba, mengatakan lonjakan transaksi SPKLU tersebut menunjukkan bahwa konsumen mulai melihat kendaraan listrik sebagai pilihan transportasi yang lebih rasional, efisien, dan relevan dengan kebutuhan mobilitas masa depan.
Baca Juga:
Promo Tambah Daya PLN Disambut Positif, ALPERKLINAS: Layanan Kelistrikan Makin Dekat dengan Konsumen
“Pertumbuhan transaksi SPKLU hingga 100 persen bukan hanya angka bisnis, tetapi cermin dari meningkatnya kepercayaan konsumen terhadap ekosistem kendaraan listrik yang dibangun PLN,” ujar Tohom, Kamis (11/6/2026).
Menurut Tohom, keberhasilan PLN UP3 Parepare menjaga layanan SPKLU tetap beroperasi hampir sepanjang waktu menjadi faktor penting dalam mengurangi kekhawatiran masyarakat terhadap risiko kehabisan daya di perjalanan.
“Dalam perspektif perlindungan konsumen, hal paling penting dari layanan SPKLU adalah kepastian akses, keandalan perangkat, transparansi biaya, dan rasa aman saat konsumen melakukan pengisian daya,” ucapnya.
Baca Juga:
Digital Edge Gandeng PLN untuk Pasokan 1,45 GW, ALPERKLINAS: Keandalan Listrik Jadi Kunci Daya Saing
Ia menilai posisi Parepare sebagai jalur transit utama kawasan Ajatappareng menjadikan kota tersebut sangat strategis dalam penguatan ekosistem kendaraan listrik di Sulawesi Selatan.
“Parepare memiliki fungsi simpul mobilitas, sehingga penguatan SPKLU di wilayah ini akan berdampak langsung terhadap kenyamanan perjalanan pengguna kendaraan listrik dari Makassar menuju berbagai daerah di sekitarnya,” kata Tohom.
Tohom mengatakan rencana PLN menambah 4 hingga 5 titik SPKLU baru hingga akhir 2026 merupakan langkah visioner yang sejalan dengan kebutuhan konsumen dan arah transisi energi nasional.
“Penambahan titik SPKLU harus dibaca sebagai investasi pelayanan publik, karena semakin luas jangkauan infrastruktur pengisian daya, semakin besar pula keyakinan masyarakat untuk beralih ke kendaraan listrik,” ujarnya.
Ia juga mengapresiasi keberadaan SPKLU Lounge di pusat komando PLN UP3 Parepare yang menyediakan fasilitas ruang istirahat, internet, kopi gratis, televisi, pendingin ruangan, hingga kursi pijat otomatis bagi pengguna kendaraan listrik.
“Konsep layanan seperti SPKLU Lounge ini menarik karena konsumen tidak hanya datang untuk mengisi daya, tetapi juga merasakan pengalaman pelayanan yang nyaman, manusiawi, dan modern,” tutur Tohom.
Menurutnya, keberadaan ultra-fast charging 180 kW yang mampu mengisi sekitar 20 kWh dalam waktu 8 hingga 10 menit menjadi bukti bahwa layanan kelistrikan untuk kendaraan listrik sudah bergerak ke arah yang lebih praktis dan kompetitif.
“Kecepatan pengisian daya menjadi salah satu kunci adopsi kendaraan listrik, karena konsumen modern membutuhkan layanan yang hemat, cepat, mudah, dan dapat diandalkan kapan saja,” katanya.
Tohom yang juga Ketua Umum PLN Watch ini mengatakan PLN perlu terus memperkuat standar pelayanan SPKLU, termasuk aspek pemeliharaan, keselamatan instalasi, sistem pembayaran, ketersediaan informasi lokasi, serta kualitas kemitraan dengan pihak swasta.
“Ekosistem kendaraan listrik tidak boleh hanya dibangun dari jumlah titik SPKLU, tetapi harus disertai standar layanan yang kuat agar konsumen mendapat pengalaman yang konsisten di setiap lokasi,” ujarnya.
Ia menambahkan, peningkatan penggunaan kendaraan listrik juga membawa manfaat langsung bagi konsumen karena biaya perjalanan dapat lebih hemat dibandingkan kendaraan berbahan bakar minyak.
“Ketika konsumen merasakan penghematan biaya perjalanan hingga separuh dari penggunaan kendaraan konvensional, maka kendaraan listrik akan semakin mudah diterima sebagai pilihan ekonomi rumah tangga,” ucap Tohom.
Tohom menilai tren positif di Parepare dapat menjadi model bagi daerah lain dalam membangun layanan SPKLU berbasis kebutuhan jalur perjalanan, pusat ekonomi, kawasan wisata, dan titik transit antardaerah.
“PLN perlu terus membaca pola perjalanan masyarakat, karena SPKLU yang ditempatkan di titik strategis akan menjadi penggerak utama kepercayaan konsumen terhadap kendaraan listrik,” katanya.
Ia berharap perluasan SPKLU di Sulawesi Selatan dapat berjalan beriringan dengan edukasi publik mengenai keselamatan pengisian daya, penggunaan aplikasi digital, efisiensi biaya, dan manfaat kendaraan listrik bagi lingkungan.
“Transisi energi akan berhasil bila konsumen merasa dilindungi, dilayani, dan diberi informasi yang jelas, karena konsumen adalah pusat dari seluruh perubahan menuju energi bersih,” ujar Tohom.
Sebelumnya, Tim Leader Sales Retail PLN UP3 Parepare, Arif Indra Wibowo, menyampaikan transaksi SPKLU di wilayah Parepare dan sekitarnya mencapai sekitar 3.000 transaksi hingga April 2026, naik dari sekitar 1.500 transaksi pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Sebelumnya, Arif juga menjelaskan PLN UP3 Parepare saat ini mengoperasikan tujuh unit SPKLU di Ajatappareng, terdiri dari tiga unit di Parepare, dua di Sidrap, satu di Barru, dan satu di Soppeng.
Sebelumnya, pengguna kendaraan listrik bernama Rudiansyah menilai penggunaan EV mampu menekan biaya perjalanan Makassar-Parepare pulang-pergi dari sekitar Rp300.000 untuk BBM menjadi sekitar Rp150.000 untuk pengisian daya penuh.
[Redaktur: Rinrin Khaltarina]