“Selama biaya produksi listrik dari biomassa masih kompetitif dan tidak mendorong kenaikan tarif, konsumen justru mendapatkan manfaat ganda: listrik tetap andal dan lingkungan lebih terjaga,” katanya.
Terkait tantangan harga biomassa yang pada jenis tertentu lebih mahal dibandingkan batubara, Tohom menilai peran negara menjadi faktor penentu.
Baca Juga:
Milad UMSU ke-69: PLN Hadir dengan Program Transisi Energi!
Ia menyoroti pentingnya tata kelola insentif dan dukungan harga yang adil serta transparan.
“Skema dukungan pemerintah harus memastikan efisiensi rantai pasok biomassa, agar transisi energi tidak menciptakan ketimpangan baru, baik di sisi konsumen maupun di tingkat produsen,” ujarnya.
Dalam perspektif jangka panjang, Tohom memandang pengembangan ekosistem biomassa, termasuk hutan tanaman energi, sebagai langkah strategis untuk memperkuat ketahanan energi nasional.
Baca Juga:
PLN Salurkan Tambahan 23.040 REC ke PT BIB, Pengguna Listrik Hijau Terbesar di Kalimantan
Ia mengungkapkan pentingnya prinsip keberlanjutan agar pengembangan biomassa tidak memicu deforestasi.
“Indonesia memiliki potensi biomassa yang sangat besar. Jika dikelola secara berkelanjutan, biomassa dapat menjadi jembatan penting menuju sistem energi rendah karbon yang berdaulat,” katanya.
Ia menegaskan bahwa transisi energi menyangkut kedaulatan energi dan kepentingan publik.