KonsumenListrik.WAHANANEWS.CO – Aliansi Lembaga Perlindungan Konsumen Listrik Nasional (ALPERKLINAS) merespons peran PLTA Sipansihaporas yang terbukti menahan dampak banjir bandang di Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, sebagai penanda penting arah pembangunan energi nasional.
Pembangkit listrik tenaga air yang berlokasi di Desa Husor, Desa Sibuluan, dan Desa Sihaporas ini dinilai menunjukkan bahwa infrastruktur ketenagalistrikan tidak lagi bisa dipahami semata sebagai penyedia pasokan listrik, melainkan juga bagian dari sistem perlindungan publik di tengah meningkatnya risiko bencana akibat perubahan iklim.
Baca Juga:
Jadi Sumber Energi Bersih dan Ketahanan Pangan, ALPERKLINAS Dorong PLN Berdayakan Petani Tanam Sorgum
Ketua Umum ALPERKLINAS, KRT Tohom Purba, menilai pengalaman warga di kawasan hilir Sungai Sipansihaporas, yang mencakup wilayah Pinangsori, Pandan, hingga Kota Sibolga, menjadi contoh konkret bagaimana pembangkit listrik tenaga air dapat berfungsi ganda: menjaga keandalan energi sekaligus meredam ancaman keselamatan masyarakat.
Menurutnya, kejadian banjir yang membawa kayu gelondongan dan material besar dari wilayah hulu seharusnya menjadi alarm kebijakan bahwa desain pembangkit ke depan wajib mempertimbangkan aspek mitigasi bencana secara serius.
“Kasus PLTA Sipansihaporas memperlihatkan bahwa energi masa depan tidak cukup hanya bersih dan terbarukan, tetapi juga harus adaptif terhadap iklim ekstrem. Ketika bendungan mampu menahan material banjir dan melindungi desa-desa di hilir, di situlah negara hadir secara nyata,” ujar Tohom, Selasa (13/1/2026).
Baca Juga:
Berskala Pelanggan Utilitas Global, ALPERKLINAS Desak PLN Tuntaskan Elektrifikasi 100% pada 2026
Ia menegaskan, perubahan iklim telah meningkatkan frekuensi hujan ekstrem, banjir bandang, dan longsor di banyak wilayah Indonesia, termasuk kawasan pesisir dan perbukitan di Sumatra Utara.
Dalam konteks tersebut, Tohom menilai pendekatan pembangunan energi yang masih berorientasi pada kapasitas produksi semata berisiko tertinggal dari realitas ancaman lingkungan.
Infrastruktur energi, kata dia, harus dirancang sebagai sistem yang berpikir lintas sektor energi, keselamatan, lingkungan, dan perlindungan konsumen.