“Ketika kendaraan listrik semakin banyak digunakan, maka beban impor BBM perlahan bisa ditekan dan ini akan sangat positif bagi ketahanan energi nasional maupun stabilitas ekonomi negara,” ujarnya.
Tohom mengatakan transformasi energi tidak hanya bicara soal teknologi, tetapi juga menyangkut perlindungan konsumen, kemudahan akses layanan, dan kesiapan infrastruktur pendukung.
Baca Juga:
Beli 50 GB dan Sisa 24 GB Tiba-tiba Hilang, YLKI Sebut Konsumen Banyak Dirugikan
Karena itu, ALPERKLINAS memandang langkah PLN menghadirkan layanan digital Electric Vehicle Digital Services (EVDS) melalui PLN Mobile sebagai inovasi penting yang mempermudah masyarakat dalam menemukan SPKLU, memantau antrean, hingga mengatur perjalanan secara real time.
“Digitalisasi layanan charging akan menjadi faktor penting dalam membangun kepercayaan publik terhadap kendaraan listrik karena masyarakat sekarang membutuhkan layanan yang praktis, cepat, dan transparan,” kata Tohom.
Ia juga berharap pembangunan SPKLU tidak hanya terpusat di kota besar, tetapi terus diperluas hingga kawasan penyangga dan jalur-jalur strategis antarwilayah.
Baca Juga:
Motor Inventaris TNI Dicuri di Simalungun, Satu Pelaku Dilumpuhkan
Tohom yang juga Ketua Umum PLN Watch mengatakan pembangunan infrastruktur kendaraan listrik harus dipandang sebagai investasi jangka panjang untuk menciptakan ekosistem energi nasional yang lebih efisien dan berkelanjutan.
Menurutnya, PLN saat ini berada pada posisi penting sebagai motor penggerak elektrifikasi nasional yang mampu menghubungkan kebutuhan energi, teknologi, dan perlindungan konsumen dalam satu sistem pelayanan modern.
“Kalau ekosistem kendaraan listrik terus diperkuat seperti sekarang, maka Indonesia punya peluang besar menjadi salah satu pusat transisi energi terbesar di kawasan Asia Tenggara,” ujarnya.