Lebih jauh, Tohom menyoroti bahwa pengembangan biomassa di Kalimantan Timur memiliki nilai strategis karena memanfaatkan limbah industri yang selama ini belum optimal.
“Ini adalah contoh nyata ekonomi sirkular. Limbah sawit dan kayu yang sebelumnya tidak bernilai kini menjadi sumber energi, sekaligus membuka lapangan kerja baru bagi masyarakat lokal,” ungkapnya.
Baca Juga:
Harga Bensin Termahal di Dunia, di Kota Ini Tembus Rp70.000 per Liter
Dalam konteks geopolitik global, ALPERKLINAS menilai langkah PLN EPI juga merupakan bentuk antisipasi terhadap ketidakpastian energi dunia.
“Ketergantungan pada energi fosil harus dikurangi secara bertahap. Dengan memperkuat bioenergi, Indonesia tidak hanya menjaga kedaulatan energi, tetapi juga melindungi konsumen dari potensi krisis energi di masa depan,” tambah Tohom.
Ia berharap proyek ini dapat menjadi model percontohan nasional yang bisa direplikasi di berbagai daerah.
Baca Juga:
PLN Dorong ITPLN Go Global, ALPERKLINAS: Investasi Strategis untuk Konsumen Listrik
“Kalau ini berhasil, kita tidak hanya bicara soal energi, tetapi juga transformasi ekonomi daerah berbasis sumber daya lokal. Inilah yang kami sebut sebagai energi berkeadilan,” tuturnya.
Sebelumnya, Direktur Biomassa PLN EPI Hokkop Situngkir menyatakan bahwa biomassa menjadi kunci dalam mendukung target Net Zero Emission (NZE) 2060, dengan penguatan ekosistem dari hulu hingga hilir.
Sementara itu, Direktur Utama PT Kalimantan Powerindo Rudy Gunawan menilai Kalimantan Timur memiliki potensi besar sebagai pusat bioenergi nasional berkat melimpahnya limbah sawit dan biomassa kayu yang dapat dioptimalkan melalui sistem terintegrasi.