KonsumenListrik.WAHANANEWS.CO – Aliansi Lembaga Perlindungan Konsumen Listrik Nasional (ALPERKLINAS) menyambut positif langkah PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) yang memperkuat rantai pasok bioenergi melalui kerja sama dengan PT Kalimantan Powerindo.
Inisiatif ini dinilai sebagai terobosan strategis dalam menjaga ketahanan energi nasional sekaligus memberikan dampak langsung bagi kepentingan konsumen listrik di tengah tantangan global.
Baca Juga:
Harga Bensin Termahal di Dunia, di Kota Ini Tembus Rp70.000 per Liter
Ketua Umum ALPERKLINAS, KRT Tohom Purba, menegaskan bahwa kolaborasi pengembangan ekosistem biomassa terintegrasi merupakan langkah visioner yang sejalan dengan kebutuhan masa depan sektor ketenagalistrikan Indonesia.
“Kami melihat ini bukan sekadar kerja sama bisnis, tetapi sebuah fondasi penting menuju kemandirian energi yang berkeadilan bagi konsumen,” ujarnya, Minggu (5/4/2026).
Menurut Tohom, penguatan biomassa sebagai bagian dari cofiring PLTU akan memberikan stabilitas pasokan listrik sekaligus menekan volatilitas biaya energi yang selama ini sangat dipengaruhi oleh harga energi fosil global.
Baca Juga:
PLN Dorong ITPLN Go Global, ALPERKLINAS: Investasi Strategis untuk Konsumen Listrik
“Ketika PLN EPI mampu mengonsolidasikan pasokan biomassa dari hulu ke hilir, maka dampaknya adalah efisiensi yang pada akhirnya bisa dirasakan oleh masyarakat dalam bentuk layanan listrik yang lebih andal dan berkelanjutan,” katanya.
Ia juga menilai pendekatan hub dan sub-hub yang diterapkan PLN EPI sebagai langkah cerdas dalam menjawab tantangan klasik sektor bioenergi, yaitu ketidakteraturan pasokan dan kualitas bahan baku.
“Model ini menunjukkan keseriusan PLN dalam membangun ekosistem, bukan sekadar proyek jangka pendek. Ini penting agar program cofiring tidak berhenti sebagai wacana, tetapi benar-benar menjadi solusi nyata,” jelasnya.
Lebih jauh, Tohom menyoroti bahwa pengembangan biomassa di Kalimantan Timur memiliki nilai strategis karena memanfaatkan limbah industri yang selama ini belum optimal.
“Ini adalah contoh nyata ekonomi sirkular. Limbah sawit dan kayu yang sebelumnya tidak bernilai kini menjadi sumber energi, sekaligus membuka lapangan kerja baru bagi masyarakat lokal,” ungkapnya.
Dalam konteks geopolitik global, ALPERKLINAS menilai langkah PLN EPI juga merupakan bentuk antisipasi terhadap ketidakpastian energi dunia.
“Ketergantungan pada energi fosil harus dikurangi secara bertahap. Dengan memperkuat bioenergi, Indonesia tidak hanya menjaga kedaulatan energi, tetapi juga melindungi konsumen dari potensi krisis energi di masa depan,” tambah Tohom.
Ia berharap proyek ini dapat menjadi model percontohan nasional yang bisa direplikasi di berbagai daerah.
“Kalau ini berhasil, kita tidak hanya bicara soal energi, tetapi juga transformasi ekonomi daerah berbasis sumber daya lokal. Inilah yang kami sebut sebagai energi berkeadilan,” tuturnya.
Sebelumnya, Direktur Biomassa PLN EPI Hokkop Situngkir menyatakan bahwa biomassa menjadi kunci dalam mendukung target Net Zero Emission (NZE) 2060, dengan penguatan ekosistem dari hulu hingga hilir.
Sementara itu, Direktur Utama PT Kalimantan Powerindo Rudy Gunawan menilai Kalimantan Timur memiliki potensi besar sebagai pusat bioenergi nasional berkat melimpahnya limbah sawit dan biomassa kayu yang dapat dioptimalkan melalui sistem terintegrasi.
[Redaktur: Mega Puspita]