KonsumenListrik.WAHANANEWS.CO – Aliansi Lembaga Perlindungan Konsumen Listrik Nasional (ALPERKLINAS) merespons dinamika pasokan energi global pascakonflik Timur Tengah dengan mendorong seluruh pemangku kepentingan untuk mempercepat konversi Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) menjadi Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS).
Langkah ini dinilai sebagai solusi strategis untuk menjaga stabilitas pasokan listrik nasional sekaligus melindungi konsumen dari gejolak harga energi fosil dunia.
Baca Juga:
PLTS Atap 22,5 MWp Resmi Beroperasi, ALPERKLINAS: PLN Perkuat Ekosistem Energi Bersih
Ketua Umum ALPERKLINAS, KRT Tohom Purba, menegaskan bahwa momentum ketidakpastian global harus dijadikan titik balik dalam transformasi energi nasional.
“Kita tidak bisa terus bergantung pada energi berbasis impor seperti BBM untuk PLTD. Konversi ke PLTS adalah langkah konkret untuk melindungi konsumen dari volatilitas harga energi global,” ujarnya, Selasa (24/3/2026).
Ia menilai, ketegangan geopolitik di Timur Tengah telah memberikan pelajaran penting bahwa ketahanan energi tidak bisa hanya bertumpu pada pasokan luar negeri.
Baca Juga:
Antisipasi Krisis Energi Dampak Geopolitik, MARTABAT Prabowo-Gibran: Kolaborasi dan Koordinasi BUMN Jadi Penentu Ketahanan Nasional
Menurut Tohom, Indonesia memiliki keunggulan sumber daya energi terbarukan yang melimpah, terutama energi surya, yang belum dimanfaatkan secara optimal.
Tohom menjelaskan bahwa program pengembangan PLTS hingga 100 gigawatt yang dicanangkan pemerintah merupakan langkah visioner yang harus didukung semua pihak, termasuk PLN sebagai operator utama kelistrikan nasional.
“PLN memiliki peran sentral dalam memastikan transisi ini berjalan mulus. Dengan dukungan teknologi dan kebijakan yang tepat, konversi PLTD ke PLTS bukan hanya memungkinkan, tetapi juga menguntungkan dalam jangka panjang,” katanya.