Lebih lanjut, ia menggarisbawahi bahwa konversi PLTD ke PLTS akan memberikan dampak langsung terhadap efisiensi biaya produksi listrik.
Menurutnya, ketergantungan pada diesel selama ini menjadi salah satu faktor tingginya biaya pokok penyediaan listrik di sejumlah wilayah, terutama di daerah terpencil.
Baca Juga:
PLTS Atap 22,5 MWp Resmi Beroperasi, ALPERKLINAS: PLN Perkuat Ekosistem Energi Bersih
“Kalau kita serius mengurangi PLTD, maka biaya produksi listrik bisa ditekan secara signifikan. Ini pada akhirnya akan berdampak pada tarif listrik yang lebih stabil dan terjangkau bagi masyarakat,” ujarnya.
Tohom juga menyebutkan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, PLN, dan sektor swasta dalam mempercepat pembangunan infrastruktur PLTS.
Ia menilai, investasi di sektor energi terbarukan harus dipermudah agar dapat menarik lebih banyak partisipasi dari pelaku usaha.
Baca Juga:
Antisipasi Krisis Energi Dampak Geopolitik, MARTABAT Prabowo-Gibran: Kolaborasi dan Koordinasi BUMN Jadi Penentu Ketahanan Nasional
Selain itu, ia mengapresiasi langkah pemerintah yang tetap mendorong transisi energi di tengah peran besar Indonesia sebagai pemasok energi global, termasuk LNG dan batu bara.
Menurutnya, keseimbangan antara kepentingan ekspor dan kebutuhan domestik menjadi kunci dalam menjaga kedaulatan energi nasional.
“Dalam situasi global yang tidak menentu, prioritas utama tetap harus pada kepentingan rakyat. Energi harus tersedia, terjangkau, dan berkelanjutan. Konversi PLTD ke PLTS adalah jawaban konkret untuk mencapai itu,” katanya.