“Ke depan, konsumen EV harus dipastikan tidak menjadi korban euforia transisi energi. Negara wajib hadir memastikan standar layanan, kepastian harga, dan keandalan pasokan tetap terjaga, bahkan saat beban sistem melonjak seperti periode Nataru,” katanya.
Tohom juga menyoroti bahwa lonjakan penggunaan EV saat mudik dan liburan membuktikan kesiapan teknologi, tetapi sekaligus menguji ketahanan sistem kelistrikan nasional.
Baca Juga:
ALPERKLINAS Apresiasi Transformasi PLN Mobile, Layanan Listrik Dinilai Kian Ramah Konsumen
Ia menilai, momentum ini harus dimanfaatkan untuk memperkuat perencanaan jangka panjang, termasuk integrasi energi baru terbarukan, pemerataan SPKLU di luar Jawa, serta penguatan regulasi perlindungan konsumen listrik berbasis kendaraan listrik.
“Transisi energi yang bermartabat adalah transisi yang menempatkan konsumen sebagai subjek, bukan sekadar pengguna. Lonjakan 479 persen ini adalah pesan keras bahwa kebijakan listrik nasional harus bergerak lebih visioner,” pungkasnya.
[Redaktur: Mega Puspita]