BPSDM Kementerian ESDM sendiri tengah mengambil peran dalam penyiapan SDM yang mumpuni melalui sertifikasi dan pelatihan di bidang energi terbarukan.
"Transformasi digital akan berdampak besar untuk dunia kerja ke depan dan butuh SDM yang lebih kompeten dengan kompetensi multi disiplin," ucap Prahoro.
Baca Juga:
Momentum Hari Bumi, RI dan Uni Eropa Percepat Transisi Energi Lewat Inovasi Hijau
Pada kesempatan tersebut, Kepala Pusat Kebijakan Keenergian Institut Teknologi Bandung (ITB) Retno Gumilang Dewi menyampaikan bahwa transisi energi adalah perubahan struktural yang signifikan dalam sistem energi melalui deep decarbonization menuju terbarukan dan berkelanjutan agar kenaikan temperatur bumi tidak melebihi 1.5oC (Paris Agreement) menuju NZE (Net Zero Emissions).
Dalam paparannya, Paris Agreement merupakan kesepakatan global yang monumental untuk menghadapi perubahan iklim. Komitmen negara-negara dinyatakan melalui Nationally Determined Contribution (NDC) untuk periode 2020-2030, ditambah aksi pra-2020.
Melalui Long-Term Strategy for Low Carbon Climate Resilience (LTS LCCR) 2050 Indonesia berkomitmen untuk berkontribusi terhadap tujuan global dan tujuan pembangunan nasional dengan memperhatikan keseimbangan antara pengurangan emisi, pertumbuhan ekonomi, keadilan dan pembangunan ketahanan iklim.
Baca Juga:
PLN Genjot 21 Proyek PLTS 513 MWp, ALPERKLINAS: Langkah Strategis Kurangi BBM
Untuk tetap dapat melaksanakan pembangun sektor energi di Indonesia, Indonesia menerapkan Kebijakan Energi Nasional: Ketahanan dan Kemandirian Energi dengan beralih dari minyak, memanfaatkan aset-aset strategis seperti gas dan batubara, peningkatan efisiensi management energi dan konservasi energi dan pengembangan energi baru (nuclear, CBM, shale-gas) & terbarukan (solar, hydro, wind, geothermal, bimass-biofuels).
Terdapat 4 pilar strategi pembangunan rendah karbon jangka panjang, antara lain pelaksanaan langkah-langkah efisiensi energi, penggunaan listrik (yang telah dekarbonisasi) di sektor transportasi dan bangunan, peralihan bahan bakar dari batubara ke gas dan energi terbarukan di industri, dan peningkatan energi baru dan terbarukan di pembangkit listrik, transportasi dan industri
Retno mengungkapkan, pengembangan biofuel untuk bahan bakar transportasi dapat mempertimbangkan bahan baku perkebunan yang berkelanjutan, yaitu biodiesel, bio-hidrokarbon, bioethanol atau bensin sawit.