Menurutnya, intensitas curah hujan tinggi di wilayah Bandung Barat menjadi faktor krusial yang harus diantisipasi melalui rekayasa teknis yang lebih presisi dan pemantauan geoteknik berkelanjutan.
“Ke depan, proyek-proyek energi seperti ini harus dilengkapi dengan sistem early warning yang lebih canggih dan integrasi data cuaca real-time agar potensi longsor dapat diidentifikasi lebih awal sebelum terjadi,” katanya.
Baca Juga:
Wakapolda Jambi Kunjungi Polres Sarolangun, Tekankan Profesionalisme dan Respons Cepat Layanan Masyarakat
Tohom yang juga Ketua Umum PLN Watch menambahkan bahwa insiden ini tidak boleh dilihat sebagai kelemahan, melainkan sebagai bagian dari dinamika pembangunan infrastruktur energi yang kompleks dan penuh tantangan, khususnya di wilayah dengan kontur geografis ekstrem seperti Jawa Barat.
Ia juga memandang bahwa transparansi informasi kepada publik serta kecepatan respons PLN dalam menangani situasi darurat menjadi indikator penting dalam menjaga kepercayaan masyarakat terhadap proyek-proyek energi nasional.
“PLN telah menunjukkan respons cepat dan terukur, dan ini penting untuk menjaga kepercayaan publik bahwa proyek strategis nasional tetap berjalan dengan prinsip kehati-hatian dan tanggung jawab,” ujarnya.
Baca Juga:
Transformasi Berkelanjutan Nyata, PLN Group Sabet 46 PROPER Emas dan Hijau 2025 KLH
Sebelumnya, aktivitas proyek PLTA Upper Cisokan di Kabupaten Bandung Barat dihentikan sementara setelah terjadi longsor di area outlet pada Jumat (1/5/2026) sekitar pukul 14.00 WIB yang dipicu oleh curah hujan tinggi, namun dipastikan tidak ada korban jiwa karena lokasi dalam kondisi steril dari aktivitas pekerja saat kejadian.
[Redaktur: Rinrin Khaltarina]