Ketika konsumsi listrik meningkat pada jam operasional siang hari, PLTS justru bekerja optimal dan menghasilkan listrik pada saat yang paling dibutuhkan.
“Bisa dikatakan, ini merupakan koreksi struktural terhadap pola konsumsi listrik industri. PLTS memotong biaya pada jam puncak, di saat listrik paling mahal,” katanya.
Baca Juga:
Prabowo Targetkan PLTS 100 Gigawatt, Indonesia Siap Ngebut Menuju Swasembada Energi
Ia juga menyoroti manfaat konversi belanja modal (capex) menjadi biaya operasional (opex) yang ditawarkan dalam skema zero investment.
Menurut Tohom, pendekatan ini membuat perencanaan keuangan industri lebih sehat dan adaptif terhadap fluktuasi pasar.
“Industri tidak perlu mengunci dana puluhan miliar rupiah untuk investasi PLTS. Energi dibayar sebagai layanan, lebih fleksibel dan transparan bagi konsumen,” jelasnya.
Baca Juga:
Kapasitas PLTS Atap Tembus 538 MWp, ALPERKLINAS Dorong Akselerasi Energi Surya Nasional
Lebih jauh, Tohom melihat adopsi PLTS sebagai langkah strategis untuk mengurangi ketergantungan industri pada jaringan listrik konvensional berbasis fosil. Di tengah agenda transisi energi nasional, keterlibatan sektor industri menjadi faktor penentu keberhasilan.
“Kalau industri besar mulai mandiri dan efisien secara energi, beban sistem kelistrikan nasional ikut berkurang. Ini efek berantai yang positif, baik bagi konsumen, negara, maupun lingkungan,” tegasnya.
Tohom juga mengapresiasi fleksibilitas sistem yang ditawarkan SUN Energy, mulai dari PLTS on-grid, off-grid, hingga hybrid.