Penghematan bahan bakar hingga 1,1 juta liter per tahun, menurutnya, akan berdampak signifikan terhadap pengurangan biaya operasional sekaligus menekan emisi karbon.
"Kalau kita hitung secara makro, ini bukan hanya hemat biaya, tapi juga investasi jangka panjang untuk lingkungan dan kualitas hidup masyarakat. Listrik 24 jam akan membuka peluang ekonomi baru, mulai dari UMKM hingga sektor pendidikan dan kesehatan," katanya.
Baca Juga:
Pascakonflik Timur Tengah, ALPERKLINAS Dorong Semua Pihak Dukung Konversi PLTD Jadi PLTS
Lebih jauh, ia menekankan bahwa proyek ini harus dijadikan model nasional dalam pengembangan energi terbarukan di wilayah kepulauan Indonesia.
"Kami mendorong agar pola kolaborasi seperti ini direplikasi secara masif. Indonesia memiliki ribuan pulau, dan pendekatan berbasis PLTS adalah solusi paling rasional dan berkelanjutan," tegasnya.
Tohom juga memberikan catatan penting agar implementasi proyek berjalan optimal dan tepat sasaran.
Baca Juga:
Konversi PLTD ke PLTS Bisa Hemat Konsumsi Minyak dan Gas Sekaligus Jaga Defisit APBN di Bawah 3 Persen, ALPERKLINAS: Pemerintah Top!
"Pengawasan harus ketat, kualitas instalasi harus terjamin, dan yang tidak kalah penting adalah edukasi kepada masyarakat agar mampu merawat dan memanfaatkan listrik secara bijak. Jangan sampai proyek bagus ini tidak berkelanjutan karena minim pendampingan," ujarnya.
Ia optimis, dengan sinergi kuat antara pemerintah, PLN, dan sektor swasta seperti Danantara Indonesia, target besar elektrifikasi nasional sekaligus transisi energi dapat tercapai lebih cepat.
"Kami percaya PLN berada di jalur yang tepat. Tinggal bagaimana konsistensi dan keberlanjutan program ini dijaga. Jika ini berhasil, maka Indonesia bisa menjadi contoh global dalam elektrifikasi berbasis energi terbarukan di negara kepulauan," pungkas Tohom.