Dia juga mendorong percepatan pembangunan jalur transmisi cadangan dan modernisasi sistem pengendalian digital agar ketahanan kelistrikan nasional semakin adaptif menghadapi risiko gangguan besar.
“Ke depan, Indonesia membutuhkan sistem kelistrikan yang bukan hanya kuat, tetapi juga cerdas dan resilien. Digitalisasi grid, penguatan early warning system, serta diversifikasi jalur transmisi menjadi kebutuhan strategis,” ujarnya.
Baca Juga:
Gangguan Kelistrikan di Sumatera, ALPERKLINAS Sebut PLN Responsif dan Terbuka ke Publik
Tohom yang juga Ketua Umum PLN Watch ini mengatakan bahwa stabilitas kelistrikan memiliki kaitan langsung dengan stabilitas ekonomi, industri, investasi, hingga ketahanan sosial masyarakat di daerah.
Karena itu, dia meminta semua pihak tidak terburu-buru membangun opini negatif sebelum investigasi selesai dilakukan secara menyeluruh.
“Dalam situasi seperti ini yang paling penting adalah menjaga kondusivitas. Kritik tentu boleh, tetapi proses investigasi teknis harus dihormati agar publik mendapatkan penjelasan yang utuh dan akurat,” kata Tohom.
Baca Juga:
PLN EPI Teken Kontrak LNG Rp360 Triliun, ALPERKLINAS: Langkah Visioner Menuju Energi Masa Depan
Sebelumnya, Direktur Transmisi PT PLN (Persero) Edwin Nugraha Putra memastikan sistem kelistrikan Sumatera telah kembali normal dan tidak ada lagi pemadaman listrik pada Senin (25/5/2026).
Menurut Edwin, gangguan bermula akibat trip pada transmisi 275 kV New Aur Duri menuju Sumsel 5 saat cuaca buruk melanda wilayah Jambi, yang kemudian memicu fenomena power swing hingga menyebabkan sistem interkoneksi Sumatera terpisah menjadi dua bagian.
[Redaktur: Rinrin Khaltarina]