Menurutnya, kolaborasi lintas unit dan lintas daerah merupakan prasyarat penting untuk menjaga ketahanan sistem kelistrikan nasional, terutama di wilayah yang tengah melakukan pemulihan pascabencana atau penguatan infrastruktur.
“Solidaritas Sumbar–Aceh ini adalah contoh nyata bahwa sistem kelistrikan nasional tidak boleh bekerja secara sektoral. Ketika satu wilayah membutuhkan, wilayah lain harus siap menopang. Inilah makna energi sebagai perekat kebangsaan,” tegasnya.
Baca Juga:
Bantuan 1.000 Genset di Aceh, ALPERKLINAS: Momentum Merancang Sistem Kelistrikan Tahan Bencana
Lebih lanjut, Tohom menilai penugasan relawan juga membawa tanggung jawab moral dalam menjaga kepercayaan publik.
Profesionalisme, disiplin K3, serta kemampuan berkomunikasi dengan masyarakat lokal menjadi faktor penting agar kehadiran PLN benar-benar dirasakan manfaatnya oleh konsumen.
“Relawan PLN bukan hanya teknisi, mereka adalah duta pelayanan publik. Cara mereka bekerja, bersikap, dan menghormati kearifan lokal akan membentuk persepsi konsumen terhadap negara dan BUMN di sektor energi,” ujar Tohom.
Baca Juga:
PLTA Sipansihaporas Tapteng Jadi Penahan Bencana, ALPERKLINAS: Fondasi Energi Masa Depan Wajib Adaptif Iklim
ALPERKLINAS berharap, model penugasan relawan dengan penekanan kuat pada K3 dan nilai kemanusiaan ini dapat terus diperluas dan dijadikan standar nasional.
Menurutnya, keberlanjutan sistem listrik Indonesia tidak hanya ditentukan oleh teknologi dan investasi, tetapi juga oleh kualitas manusia yang menjalankannya.
“Kalau SDM-nya selamat, profesional, dan berempati, maka konsumen akan merasakan listrik yang bukan hanya menyala, tetapi juga menenangkan,” pungkasnya.