KonsumenListrik.WAHANANEWS.CO – Aliansi Lembaga Perlindungan Konsumen Listrik Nasional (ALPERKLINAS) memberikan apresiasi terhadap langkah PLN Unit Induk Distribusi (UID) Sumatera Barat yang melepas Relawan PLN Sumbar Batch 3 untuk mendukung pekerjaan kelistrikan di Aceh.
ALPERKLINAS menilai penugasan lintas wilayah tersebut merupakan agenda teknis pemulihan dan penguatan sistem listrik, yang juga mencerminkan keberpihakan pada keselamatan kerja, nilai kemanusiaan, serta kepentingan konsumen listrik di wilayah terdampak.
Baca Juga:
Bantuan 1.000 Genset di Aceh, ALPERKLINAS: Momentum Merancang Sistem Kelistrikan Tahan Bencana
Ketua Umum ALPERKLINAS, KRT Tohom Purba, menegaskan bahwa penekanan pada keselamatan dan kesehatan kerja (K3) dalam setiap penugasan relawan PLN merupakan aspek fundamental yang berdampak langsung pada kualitas layanan kelistrikan bagi masyarakat.
“Komitmen K3 yang ditegaskan manajemen PLN UID Sumbar adalah fondasi utama. Relawan yang bekerja dengan aman, sehat, dan terukur akan menghasilkan layanan listrik yang lebih andal, berkelanjutan, dan minim risiko bagi konsumen,” ujar Tohom, Selasa (20/1/2026).
Menurut Tohom, keberangkatan relawan ke Aceh juga menunjukkan wajah lain dari transformasi sektor ketenagalistrikan nasional, yakni penguatan sumber daya manusia yang berkarakter humanis dan adaptif.
Baca Juga:
PLTA Sipansihaporas Tapteng Jadi Penahan Bencana, ALPERKLINAS: Fondasi Energi Masa Depan Wajib Adaptif Iklim
Ia menilai, konsumen listrik tidak hanya membutuhkan pasokan energi yang stabil, tetapi juga sistem pelayanan yang dibangun di atas etika keselamatan dan kepedulian sosial.
“Bagi kami di ALPERKLINAS, konsumen listrik adalah manusia yang harus dilindungi sejak dari hulu. Ketika PLN mengirim relawan dengan standar K3 yang ketat, itu artinya perlindungan konsumen sudah dimulai bahkan sebelum listrik sampai ke rumah warga,” katanya.
Tohom juga menyoroti nilai solidaritas antarwilayah yang tercermin dalam penugasan Relawan PLN Sumbar Batch 3.
Menurutnya, kolaborasi lintas unit dan lintas daerah merupakan prasyarat penting untuk menjaga ketahanan sistem kelistrikan nasional, terutama di wilayah yang tengah melakukan pemulihan pascabencana atau penguatan infrastruktur.
“Solidaritas Sumbar–Aceh ini adalah contoh nyata bahwa sistem kelistrikan nasional tidak boleh bekerja secara sektoral. Ketika satu wilayah membutuhkan, wilayah lain harus siap menopang. Inilah makna energi sebagai perekat kebangsaan,” tegasnya.
Lebih lanjut, Tohom menilai penugasan relawan juga membawa tanggung jawab moral dalam menjaga kepercayaan publik.
Profesionalisme, disiplin K3, serta kemampuan berkomunikasi dengan masyarakat lokal menjadi faktor penting agar kehadiran PLN benar-benar dirasakan manfaatnya oleh konsumen.
“Relawan PLN bukan hanya teknisi, mereka adalah duta pelayanan publik. Cara mereka bekerja, bersikap, dan menghormati kearifan lokal akan membentuk persepsi konsumen terhadap negara dan BUMN di sektor energi,” ujar Tohom.
ALPERKLINAS berharap, model penugasan relawan dengan penekanan kuat pada K3 dan nilai kemanusiaan ini dapat terus diperluas dan dijadikan standar nasional.
Menurutnya, keberlanjutan sistem listrik Indonesia tidak hanya ditentukan oleh teknologi dan investasi, tetapi juga oleh kualitas manusia yang menjalankannya.
“Kalau SDM-nya selamat, profesional, dan berempati, maka konsumen akan merasakan listrik yang bukan hanya menyala, tetapi juga menenangkan,” pungkasnya.
Sebelumnya, General Manager PLN UID Sumatera Barat Ajrun Karim menegaskan bahwa keselamatan dan kesehatan kerja merupakan prioritas utama dalam setiap penugasan relawan PLN, serta meminta seluruh personel menjaga disiplin prosedur, kekompakan tim, dan menghormati kearifan lokal selama bertugas di Aceh.
[Redaktur: Rinrin Khaltarina]