Dengan meningkatnya kebutuhan listrik untuk transportasi, utilisasi pembangkit listrik nasional akan semakin optimal.
“Ini peluang besar bagi PLN untuk memperkuat efisiensi sistem kelistrikan nasional. Ketika konsumsi listrik meningkat secara produktif seperti untuk transportasi, maka investasi pembangkit dan jaringan akan semakin bernilai ekonomi tinggi,” jelasnya.
Baca Juga:
ALPERKLINAS Dukung PLN Perpanjang RUPTL hingga 20240, PLTN Jadi Pilar Ketahanan Energi Nasional
Selain itu, menurutnya, kebijakan ini dapat memicu pertumbuhan industri baru di dalam negeri, mulai dari industri konversi kendaraan, produksi baterai, bengkel konversi, hingga penyediaan infrastruktur pengisian daya.
“Ekosistem kendaraan listrik akan menciptakan lapangan kerja baru. Mulai dari teknisi konversi motor, manufaktur komponen listrik, hingga pengembangan teknologi baterai. Ini multiplier effect yang sangat besar bagi perekonomian nasional,” ungkap Tohom.
ALPERKLINAS juga menilai langkah pemerintah membentuk satuan tugas percepatan transisi energi merupakan keputusan yang tepat untuk memastikan program berjalan cepat dan terkoordinasi.
Baca Juga:
Milad UMSU ke-69: PLN Hadir dengan Program Transisi Energi!
“Jika satgas bekerja secara efektif, maka target 3 hingga 4 tahun yang dicanangkan Presiden sangat mungkin tercapai. Bahkan kita optimistis bisa lebih cepat apabila dukungan regulasi, insentif, dan kesiapan infrastruktur listrik terus diperkuat,” kata Tohom.
Menurutnya, integrasi antara program konversi kendaraan listrik dan pengembangan pembangkit energi terbarukan seperti PLTS juga akan memberikan manfaat jangka panjang bagi ketahanan energi nasional.
“Ketika kendaraan listrik menggunakan energi yang berasal dari sumber bersih seperti tenaga surya, maka kita tidak hanya mengurangi impor BBM, tetapi juga memperkuat kemandirian energi nasional,” ujarnya.