KonsumenListrik.WAHANANEWS.CO – Aliansi Lembaga Perlindungan Konsumen Listrik Nasional (ALPERKLINAS) menilai percepatan penggunaan mobil listrik berpotensi memberikan dampak ekonomi yang sangat signifikan bagi Indonesia.
Organisasi tersebut menegaskan bahwa adopsi kendaraan listrik secara konsisten selama 15 tahun ke depan dapat menghemat hingga 100 miliar liter bensin, sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional di tengah naik-turunnya harga minyak dunia.
Baca Juga:
Sambut Nataru, PLN dan Mitra Siapkan 4.514 SPKLU di 2.862 Titik serta 69.000 Personel di 3.392 Posko Nasional, ALPERKLINAS: Mobil Listrik Aman Dibawa Mudik
Ketua Umum ALPERKLINAS, KRT Tohom Purba, menyebut penghematan tersebut bukan sekadar angka optimistis, tetapi masuk akal apabila pemerintah dan industri terus mendorong elektrifikasi transportasi secara terukur.
Menurutnya, setiap liter bensin yang tidak terbakar berarti dua keuntungan langsung: menekan impor bahan bakar dan mengurangi biaya kesehatan akibat polusi.
Tohom menambahkan bahwa penghematan 100 miliar liter bensin sama artinya dengan penyelamatan ratusan triliun rupiah nilai subsidi energi dalam jangka panjang.
Baca Juga:
Bupati Dairi: Penggunaan Energi Listrik Saat Ini Merupakan Sebuah Tuntutan Zaman
"Ini bukan hanya isu lingkungan, tapi isu ekonomi dan kesejahteraan masyarakat,” ujarnya, Senin (17/11/2025).
Ia mengungkapkan bahwa elektrifikasi transportasi adalah momentum emas bagi Indonesia, apalagi jika dibarengi pembangunan infrastruktur pengisian daya, insentif harga, serta tata regulasi yang berpihak pada konsumen.
“Jika Indonesia serius mengadopsi kendaraan listrik secara terencana selama 15 tahun, kita bukan saja hemat bensin, tapi juga meningkatkan efisiensi energi nasional dan kemandirian pasokan,” tambah Tohom.
Menurutnya, laporan-laporan global yang menyoroti potensi pengurangan emisi harus dipandang sebagai referensi strategis, namun Indonesia perlu fokus pada manfaat konkret untuk masyarakat sehari-hari.
“Konsumen butuh kejelasan tentang biaya lebih murah, risiko lebih kecil, dan kualitas udara yang lebih baik. Itu yang harus menjadi pusat kebijakan negara,” tegasnya.
Lebih jauh, Tohom menilai bahwa tren global sudah bergerak cepat ke arah transportasi listrik, dan Indonesia tidak boleh tertinggal.
“Kalau transisi ini dilakukan setengah hati, kita yang akan menanggung biaya ekonomi paling besar,” tuturnya.
Sementara itu, Tohom juga menyoroti pentingnya kolaborasi antara pemerintah, industri otomotif, dan penyedia energi untuk menciptakan ekosistem EV yang sehat.
“Kalau ingin menghemat 100 miliar liter bensin dalam 15 tahun, semua pemangku kepentingan harus bergerak sebagai satu ekosistem, bukan kerja sendiri-sendiri,” jelasnya.
Secara faktual, Indonesia berpeluang menghemat lebih dari 100 miliar liter bensin dan menekan 170 juta ton emisi karbon pada 2040 jika adopsi kendaraan listrik dipercepat.
Temuan itu diungkap dalam laporan Rocky Mountain Institute (RMI) bertajuk “Transforming Indonesia’s Transportation” pada Kamis (13/11/2025).
Laporan tersebut menilai percepatan elektrifikasi roda dua dan empat dapat menjadi langkah krusial untuk mengurangi polusi udara sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional.
RMI juga menekankan bahwa transisi kendaraan listrik dapat menciptakan hingga 500.000 lapangan kerja baru, meski tantangannya masih mencakup harga EV, infrastruktur pengisian daya, hingga rendahnya literasi publik mengenai manfaat kendaraan listrik.
[Redaktur: Mega Puspita]