Maka, ketika ada kebijakan kenaikan tarif pajak pertambahan nilai (PPN) menjadi 12% per 1 Januari 2025, harus dikompensasi pemerintah melalui kebijakan insentif, sepertinya salah satunya dengan diskon 50% tarif listrik.
"Untuk inflasi kita tahu komponen-komponen besar bobot inflasi kan pangan, kemudian tarif listrik," kata Ferry di Kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta, Selasa (17/12/2024).
Baca Juga:
ALPERKLINAS Apresiasi Komitmen Pemerintah Dukung Energi Terbarukan dengan Beri Waktu 30 Tahun Perjanjian Jual Beli Listrik EBT ke PLN
Sementaradiskon itu, untuk alasan kenapa hanya diberikan insentif diskon 50% hanya untuk 2 bulan saat tarif PPN 12% berlaku untuk keseluruhan tahun, ia jelaskan karena pemerintah telah memperhitungkan siklus tingginya tekanan inflasi per bulannya.
"Secara siklus meski inflasi 2024 kita relatif rendah dan kalau 2025 masih di rentang sasaran, tapi siklus akhir tahun kita punya mapping di bulan-bulan kapan inflasi tinggi dibanding inflasi bulan-bulan lain," ucapnya.
Ia mengatakan, tekanan inflasi tinggi biasanya akan terjadi pada akhir tahun, yang berimplikasi pada tekanan inflasi pada kuartal I-2025, karena adanya momen natal dan tahun baru.
Baca Juga:
ALPERKLINAS Desak Kepala Daerah Tiru Respons Cepat Walikota Langsa Tangani PJU Padam Demi Keamanan Masyarakat
Maka, kuartal I-2025 menjadi level kritis bagi pemerintah untuk menekan angka inflasi supaya tidak terlalu tinggi melalui diskon tarif listrik dua bulan pertama 2025. Sambil didorong dengan kebijakan bantuan pangan atau beras selama 2 bulan Januari-Februari 2025.
Dengan skema tarif listrik diskon 50% ditambah dengan bantuan pangan atau beras untuk 16 juta keluarga seberat masing-masing 10 kg/bulan, pemerintah kata dia akan bisa mengendalikan tekanan inflasi sambil mendorong pertumbuhan ekonomi kuartal I-2025.
"Maka kritikal di Q1 bagi pemerintah, makanya 2 bulan saat inflasi tinggi ada bantuan pangan yang untuk kelas menengah, kemudian diskon listrik, ini kita harapkan inflasi terjaga kemudian daya beli yang di create dari bantuan pangan maupun diskon listrik jadi leverage dari pertumbuhan ekonomi di kuartal I," tuturnya.