KonsumenListrik, Jakarta – Aliansi Lembaga Perlindungan Konsumen Listrik Nasional (ALPERKLINAS) menyebut keputusan pemerintah memberikan diskon tarif listrik selama dua bulan, yakni Januari hingga Februari 2025, bertujuan untuk mengantisipasi kebutuhan ekonomi masyarakat pasca Natal dan Tahun Baru (Nataru).
Ketua Umum ALPERKLINAS, KRT Tohom Purba, menjelaskan bahwa periode awal tahun sering menjadi masa sulit bagi sebagian masyarakat karena lonjakan pengeluaran pada akhir tahun.
Baca Juga:
ALPERKLINAS Apresiasi Komitmen Pemerintah Dukung Energi Terbarukan dengan Beri Waktu 30 Tahun Perjanjian Jual Beli Listrik EBT ke PLN
"Diskon tarif listrik ini adalah langkah strategis pemerintah untuk memberikan sedikit kelonggaran kepada masyarakat dalam mengatur pengeluaran pasca Nataru," ujar Tohom yang juga menjabat sebagai Ketua Umum Persatuan Pengacara Perlindungan Konsumen Indonesia (PERAPKI) kepada WahanaNews.co, Sabtu (21/12/2024).
Menurut Ketua Umum ALPERKLINAS, KRT Tohom Purba, program diskon ini diharapkan dapat meringankan beban masyarakat yang memenuhi kriteria penerima manfaat. Ia juga menegaskan pentingnya memastikan program ini berjalan dengan tepat sasaran.
"Kami berharap pemerintah dan PLN memastikan data penerima manfaat terverifikasi dengan baik, sehingga program ini benar-benar membantu masyarakat yang membutuhkan," kata Tohom.
Baca Juga:
ALPERKLINAS Desak Kepala Daerah Tiru Respons Cepat Walikota Langsa Tangani PJU Padam Demi Keamanan Masyarakat
ALPERKLINAS mengimbau masyarakat untuk memanfaatkan diskon ini secara optimal dan tetap melakukan pembelian melalui saluran resmi untuk menghindari potensi penipuan.
"Saya menghimbau kepada konsumen agar tidak melewatkan kesempatan ini, karena program ini sangat membantu dalam meringankan pengeluaran listrik. Saya menyarankan agar alokasi pembelian token setiap bulannya tetap seperti biasa, karena token yang dibeli akan tetap tersimpan dan dapat digunakan kapan saja," tambah Tohom.
Deputi Bidang Koordinasi Pengelolaan dan Pengembangan Usaha Badan Usaha Milik Negara Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Ferry Irawan menjelaskan, secara umum tarif listrik merupakan salah satu komponen penyumbang inflasi terbesar setelah bahan pangan di Indonesia.
Maka, ketika ada kebijakan kenaikan tarif pajak pertambahan nilai (PPN) menjadi 12% per 1 Januari 2025, harus dikompensasi pemerintah melalui kebijakan insentif, sepertinya salah satunya dengan diskon 50% tarif listrik.
"Untuk inflasi kita tahu komponen-komponen besar bobot inflasi kan pangan, kemudian tarif listrik," kata Ferry di Kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta, Selasa (17/12/2024).
Sementaradiskon itu, untuk alasan kenapa hanya diberikan insentif diskon 50% hanya untuk 2 bulan saat tarif PPN 12% berlaku untuk keseluruhan tahun, ia jelaskan karena pemerintah telah memperhitungkan siklus tingginya tekanan inflasi per bulannya.
"Secara siklus meski inflasi 2024 kita relatif rendah dan kalau 2025 masih di rentang sasaran, tapi siklus akhir tahun kita punya mapping di bulan-bulan kapan inflasi tinggi dibanding inflasi bulan-bulan lain," ucapnya.
Ia mengatakan, tekanan inflasi tinggi biasanya akan terjadi pada akhir tahun, yang berimplikasi pada tekanan inflasi pada kuartal I-2025, karena adanya momen natal dan tahun baru.
Maka, kuartal I-2025 menjadi level kritis bagi pemerintah untuk menekan angka inflasi supaya tidak terlalu tinggi melalui diskon tarif listrik dua bulan pertama 2025. Sambil didorong dengan kebijakan bantuan pangan atau beras selama 2 bulan Januari-Februari 2025.
Dengan skema tarif listrik diskon 50% ditambah dengan bantuan pangan atau beras untuk 16 juta keluarga seberat masing-masing 10 kg/bulan, pemerintah kata dia akan bisa mengendalikan tekanan inflasi sambil mendorong pertumbuhan ekonomi kuartal I-2025.
"Maka kritikal di Q1 bagi pemerintah, makanya 2 bulan saat inflasi tinggi ada bantuan pangan yang untuk kelas menengah, kemudian diskon listrik, ini kita harapkan inflasi terjaga kemudian daya beli yang di create dari bantuan pangan maupun diskon listrik jadi leverage dari pertumbuhan ekonomi di kuartal I," tuturnya.
"Jadi kalau dari siklus sekarang Q1 kritikal yang jadi engine of growth juga, jadi kayak mesin di awal kita siapain, sehingga pertumbuhan ekonomi dan inflasi terjaga," tegas Ferry.
Sebelumnya, Direktur Utama PT PLN (Persero), Darmawan Prasodjo membeberkan sejumlah pelanggan yang akan menerima paket stimulus ekonomi melalui diskon tarif listrik 50% pada Januari dan Februari 2025. Tercatat, setidaknya 81,4 juta pelanggan Rumah Tangga (RT) yang akan mendapatkan diskon tersebut.
Diantaranya 24,6 juta pelanggan dengan daya listrik 450 Volt Ampere (VA), kemudian 38 juta pelanggan 900 VA, lalu 14,1 juta pelanggan 1.300 VA dan 4,6 juta pelanggan 2.200 VA.
"Ini menyasar 97% pelanggan, diskon 50% pada bulan Januari-Februari 2025. Ini berkah untuk daya beli masyarakat, kami siap menjalankan berkah ini tentunya untuk pelanggan prabayar kami, misalnya beli Rp 100 ribu bisa jadi separuhnya," terang Darmawan Prasodjo, dalam Konferensi Pers: Paket Stimulus Ekonomi Untuk Kesejahteraan Masyarakat, dikutip Selasa (17/12/2024).
Pemerintah mengungkapkan alasan dibalik pemberian kebijakan insentif, berupa diskon biaya listrik sebesar 50% untuk pelanggan dengan daya 2.200 VA atau lebih rendah selama 2 bulan (Januari-Februari 2025).
Deputi Bidang Koordinasi Pengelolaan dan Pengembangan Usaha Badan Usaha Milik Negara Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Ferry Irawan menjelaskan, secara umum tarif listrik merupakan salah satu komponen penyumbang inflasi terbesar setelah bahan pangan di Indonesia.
Direktur Utama PLN, Darmawan Prasodjo, membeberkan bahwa diskon ini berlaku pada 81,4 juta pelanggan listrik PLN atau setara 97% dari total 84 juta pelanggan golongan rumah tangga.
"Kami siap all out mendukung untuk pelaksanaan kebijakan ini. Dengan adanya sistem layanan pelanggan yang sudah terdigitalisasi di PLN, maka kami memudahkan pelanggan agar tidak perlu ada registrasi yang berbelit," Jelas Darmawan.
Darmawan juga menjelaskan mekanisme diskon bagi pelanggan prabayar dan pascabayar.
"Untuk pelanggan pascabayar, nominal tagihan bulanan akan secara otomatis dikurangi 50% pada saat bayar listrik. Sedangkan untuk pelanggan prabayar, potongan 50% akan langsung didapatkan saat pelanggan membeli token listrik di manapun, baik itu di PLN Mobile, di ritel-ritel, di agen, dan di manapun," jabar Darmawan.
[Redaktur: Amanda Zubehor]