Menurut Tohom, kedua wilayah tersebut sangat tepat dijadikan lokasi percontohan karena selama ini menghadapi tantangan biaya listrik yang relatif tinggi.
“Jika dikelola dengan benar, proyek ini bisa menjadi motor penggerak ekonomi daerah, menurunkan biaya energi, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir,” ujarnya.
Baca Juga:
Langkah KG Media Gunakan REC PLN, ALPERKLINAS: Transisi Energi Butuh Partisipasi Korporasi
Lebih lanjut, ALPERKLINAS memandang kombinasi potensi energi laut, panas bumi, dan surya yang mencapai ribuan gigawatt sebagai keunggulan strategis Indonesia dibanding banyak negara lain.
“Kita punya karakter dan sumber daya sendiri. Yang dibutuhkan adalah tata kelola yang transparan, perlindungan konsumen yang kuat, dan keberpihakan pada kepentingan jangka panjang,” kata Tohom.
ALPERKLINAS juga mendorong agar pengembangan pembangkit energi baru terbarukan, termasuk arus laut, disertai penguatan infrastruktur jaringan dan partisipasi publik.
Baca Juga:
Energi Bersih 510 MW untuk Pertumbuhan Ekonomi, ALPERKLINAS Dorong Optimalisasi PLTA Batang Toru
Menurutnya, konsumen listrik harus ditempatkan sebagai subjek utama dalam transisi energi.
“Transisi energi jangan sampai elitis. Konsumen harus merasakan manfaat langsung berupa listrik yang andal, terjangkau, dan ramah lingkungan,” pungkasnya.
[Redaktur: Mega Puspita]