Menurutnya, teknologi pengisian ultra cepat membutuhkan daya listrik sangat besar yang tidak bisa disamakan dengan pengisian daya konvensional.
Dalam konteks ini, peran PLN dinilai sangat strategis sebagai penyedia sistem kelistrikan nasional.
Baca Juga:
PLN Pastikan Layanan Pengisian EV Siap 24 Jam Selama Mudik Lebaran
“Toh, PLN sudah berada di jalur yang tepat dengan membangun ekosistem charging station secara bertahap dan terukur. Yang harus dijaga adalah keseimbangan antara inovasi teknologi dan kesiapan sistem kelistrikan agar tidak menimbulkan beban berlebih pada jaringan,” jelasnya.
Lebih jauh, Tohom melihat bahwa persaingan global antara China dan Amerika Serikat dalam teknologi kendaraan listrik bukan hanya soal kecepatan pengisian, tetapi juga menyangkut ekosistem secara menyeluruh.
China unggul dalam inovasi teknologi, sementara Amerika Serikat fokus memperluas jaringan pengisian.
Baca Juga:
SPKLU Jalur One Way Disiapkan PLN, Pemudik EV Tak Perlu Khawatir
“Indonesia tidak perlu terjebak memilih salah satu model. Kita bisa mengambil jalan tengah, yakni membangun infrastruktur yang kuat seperti yang dilakukan PLN, sambil tetap membuka ruang bagi adopsi teknologi terbaru secara selektif dan aman,” tuturnya.
Ia menambahkan, transparansi informasi dari produsen akan menjadi fondasi penting dalam membangun kepercayaan publik terhadap kendaraan listrik.
Tanpa itu, percepatan adopsi justru berisiko terhambat karena munculnya kekhawatiran konsumen.