KonsumenListrik.WAHANANEWS.CO – Aliansi Lembaga Perlindungan Konsumen Listrik Nasional (ALPERKLINAS) meminta produsen kendaraan listrik untuk secara transparan menjelaskan kepada publik terkait keuntungan dan potensi risiko dari teknologi pengisian daya super cepat lima menit.
Langkah ini dinilai penting agar konsumen tidak hanya terpukau oleh klaim kecepatan, tetapi juga memahami dampaknya terhadap keamanan, umur baterai, serta efisiensi biaya jangka panjang.
Baca Juga:
PLN Pastikan Layanan Pengisian EV Siap 24 Jam Selama Mudik Lebaran
Ketua Umum ALPERKLINAS, KRT Tohom Purba, menegaskan bahwa inovasi pengisian daya super cepat merupakan lompatan besar dalam industri kendaraan listrik, namun sebaiknya tidak disampaikan secara parsial kepada masyarakat.
“Kami meminta produsen tidak hanya menjual narasi kecepatan lima menit, tetapi juga wajib membuka informasi soal dampak teknis, termasuk degradasi baterai, kebutuhan daya listrik besar, dan potensi biaya tambahan bagi konsumen,” ujarnya.
Menurut Tohom, edukasi konsumen menjadi krusial di tengah derasnya arus inovasi global, terutama setelah produsen asal China seperti BYD mengklaim mampu menghadirkan teknologi pengisian baterai hingga 70 persen hanya dalam lima menit.
Baca Juga:
SPKLU Jalur One Way Disiapkan PLN, Pemudik EV Tak Perlu Khawatir
Ia menilai, keunggulan tersebut memang berpotensi mengubah perilaku pengguna kendaraan listrik, namun tetap harus diimbangi dengan literasi yang memadai.
“Percepatan teknologi itu bagus, tetapi konsumen berhak tahu apakah pengisian super cepat itu memperpendek umur baterai atau tidak. Jangan sampai di awal terlihat hemat waktu, tetapi di belakang hari justru mahal dalam biaya penggantian baterai,” katanya.
Ia juga menyoroti aspek kesiapan infrastruktur kelistrikan, termasuk di Indonesia.
Menurutnya, teknologi pengisian ultra cepat membutuhkan daya listrik sangat besar yang tidak bisa disamakan dengan pengisian daya konvensional.
Dalam konteks ini, peran PLN dinilai sangat strategis sebagai penyedia sistem kelistrikan nasional.
“Toh, PLN sudah berada di jalur yang tepat dengan membangun ekosistem charging station secara bertahap dan terukur. Yang harus dijaga adalah keseimbangan antara inovasi teknologi dan kesiapan sistem kelistrikan agar tidak menimbulkan beban berlebih pada jaringan,” jelasnya.
Lebih jauh, Tohom melihat bahwa persaingan global antara China dan Amerika Serikat dalam teknologi kendaraan listrik bukan hanya soal kecepatan pengisian, tetapi juga menyangkut ekosistem secara menyeluruh.
China unggul dalam inovasi teknologi, sementara Amerika Serikat fokus memperluas jaringan pengisian.
“Indonesia tidak perlu terjebak memilih salah satu model. Kita bisa mengambil jalan tengah, yakni membangun infrastruktur yang kuat seperti yang dilakukan PLN, sambil tetap membuka ruang bagi adopsi teknologi terbaru secara selektif dan aman,” tuturnya.
Ia menambahkan, transparansi informasi dari produsen akan menjadi fondasi penting dalam membangun kepercayaan publik terhadap kendaraan listrik.
Tanpa itu, percepatan adopsi justru berisiko terhambat karena munculnya kekhawatiran konsumen.
“Ke depan, konsumen tidak hanya butuh cepat, tetapi juga butuh kepastian. Di sinilah pentingnya regulasi, edukasi, dan peran PLN sebagai tulang punggung energi nasional dalam memastikan transisi energi berjalan adil, aman, dan berkelanjutan,” pungkasnya.
[Redaktur: Mega Puspita]