Tohom menekankan pentingnya memastikan manfaat ekonomi lokal ikut dirasakan masyarakat sekitar proyek.
“PLTN bukan hanya soal listrik, tapi juga transfer teknologi, penciptaan lapangan kerja, dan multiplier effect bagi daerah,” ucapnya.
Baca Juga:
Jadikan PLTN Opsi Utama, ALPERKLINAS Desak Pemerintah Maksimalkan Sosialisasi ke Masyarakat
Sebelumnya, Direktur Utama PT PLN (Persero) Darmawan Prasodjo menyatakan pembangunan PLTN membutuhkan waktu antara 11 hingga 14 tahun sehingga perlu dimasukkan dalam perencanaan jangka panjang sektor ketenagalistrikan.
Ia menyebut dalam RUPTL 2025–2034 kapasitas nuklir yang direncanakan baru 500 megawatt, namun hasil pemodelan menunjukkan kebutuhan hingga 7 gigawatt setelah 2035.
Sementara itu, Sekretaris Jenderal Dewan Energi Nasional, Dadan Kusdiana, menyampaikan target pengoperasian PLTN pertama pada 2032–2034 sebagai bagian dari rencana besar mencapai 44 gigawatt kapasitas nuklir pada 2060.
Baca Juga:
Putin Siap Kirim Ahli Dukung Pengembangan PLTN Indonesia Usai Bertemu Prabowo di Moskow
[Redaktur: Mega Puspita]