Ia menyebut langkah penghentian operasional PLTD Fajar City sebagai sinyal kuat bahwa PLN serius melakukan transisi menuju sistem yang lebih efisien dan berkelanjutan.
“Dari perspektif perlindungan konsumen, stabilitas tegangan dan fleksibilitas manuver beban saat terjadi gangguan sangat krusial. Konsumen tidak lagi dirugikan oleh pemadaman berulang atau kualitas listrik yang tidak stabil. Ini meningkatkan produktivitas dan kepercayaan investor,” tegasnya.
Baca Juga:
Jaga Listrik Tetap Aman di Bulan Ramadan, PLN PERDAGANGAN Siaga Penuh 24 Jam dan Pembersihan Dahan Pohon
Ia menambahkan, dukungan pemerintah daerah serta penerapan standar teknis dan keselamatan kerja (K3) menunjukkan bahwa pembangunan infrastruktur listrik tidak hanya mengejar target operasional, tetapi juga memperhatikan aspek keamanan dan keberlanjutan.
Tohom memandang proyek ini sebagai model pembangunan kelistrikan berbasis interkoneksi regional yang dapat direplikasi di wilayah lain yang masih terfragmentasi sistemnya.
“PLN telah menunjukkan bahwa pemerataan infrastruktur bukan sekadar jargon. Ketika sistem regional terhubung kuat, pertumbuhan ekonomi daerah akan lebih cepat karena listrik adalah enabler utama industri, UMKM, dan layanan publik,” pungkasnya.
Baca Juga:
Aceh Selatan Bebas 'Lampu Kedip' dengan SUTT PLN!
Sebelumnya, Direktur Utama PT PLN (Persero) Darmawan Prasodjo menyatakan bahwa pengoperasian infrastruktur ini merupakan bagian dari komitmen PLN memperkuat sistem kelistrikan Aceh Barat hingga Aceh Selatan sekaligus mengurangi ketergantungan pada PLTD.
General Manager PLN UIP Sumatera Utara, Dewanto, menambahkan bahwa infrastruktur tersebut meningkatkan keandalan sistem, menjaga kualitas tegangan, serta mendukung pertumbuhan kebutuhan listrik di sektor rumah tangga, bisnis, dan industri.
[Redaktur: Mega Puspita]