“Bagi industri, terutama yang berorientasi ekspor, pengakuan penggunaan energi hijau memiliki nilai strategis. Ini berkaitan langsung dengan daya saing dan reputasi di pasar internasional,” katanya.
Ia juga menyoroti dominasi pelanggan industri berskala besar dalam pembelian REC sepanjang 2025. Menurutnya, kondisi ini wajar mengingat sektor tersebut memiliki kebutuhan energi tinggi.
Baca Juga:
Mengenal REC dan Dedicated Source: Solusi Praktis Dukung Energi Bersih dari PLN UID Jabar
Namun, ia mengingatkan agar pengembangan REC ke depan tidak berhenti pada kelompok pelanggan tertentu.
“Industri besar memang menjadi motor awal, tetapi ke depan perlu ada perluasan akses agar manfaat listrik hijau bisa dirasakan lebih luas,” ujarnya.
Tohom kemudian menyinggung peran layanan GEAS atau Green as a Service, yakni layanan listrik hijau PLN bagi pelanggan industri dan bisnis yang disuplai dari pembangkit EBT, baik melalui skema REC maupun pasokan khusus (dedicated source).
Baca Juga:
Penjualan REC PLN Tembus 13,68 TWh, Sektor Industri Kian Gencar Gunakan Listrik Hijau
Menurutnya, keterlibatan berbagai pembangkit EBT—mulai dari panas bumi, tenaga air, hingga tenaga surya—memberikan dasar teknis yang kuat bagi kredibilitas layanan tersebut.
“Ketersediaan pembangkit EBT yang nyata membuat REC tidak berhenti pada klaim administratif. Ini penting untuk menjaga kepercayaan konsumen,” kata Tohom.
Meski demikian, ia menekankan bahwa pertumbuhan layanan ini harus dibarengi dengan penguatan regulasi dan pengawasan agar manfaatnya benar-benar berkelanjutan.