KonsumenListrik.WAHANANEWS.CO – Aliansi Lembaga Perlindungan Konsumen Listrik Nasional (ALPERKLINAS) menyambut positif langkah PT PLN (Persero) Unit Induk Distribusi Jawa Timur dalam mengoperasikan Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum Roda 2 (SPKLU R2) di sejumlah daerah untuk mendukung program becak listrik.
ALPERKLINAS menilai inisiatif tersebut sebagai bentuk konkret perlindungan konsumen listrik sekaligus bukti bahwa transisi energi dapat berjalan beriringan dengan penguatan ekonomi masyarakat kecil.
Baca Juga:
Proyek Pipa Gas WNTS–Pemping Dimulai, ALPERKLINAS: Langkah Strategis PLN EPI Perkuat Listrik Batam
Ketua Umum ALPERKLINAS KRT Tohom Purba menegaskan bahwa kehadiran SPKLU R2 sebaiknya tidak dipandang semata sebagai proyek infrastruktur, melainkan sebagai instrumen keadilan energi.
“Transisi energi yang sehat adalah transisi yang menyentuh akar rumput. Ketika tukang becak bisa bekerja lebih ringan, lebih hemat, dan lebih aman, di situlah negara benar-benar hadir melalui listrik,” ujar Tohom, Sabtu (15/2/2026).
Ia menjelaskan, langkah PLN menyediakan SPKLU R2 bagi becak listrik mencerminkan arah kebijakan energi yang inklusif.
Baca Juga:
Soroti Temuan kWh Listrik di Bekas Bangunan Liar, ALPERKLINAS Dorong Penataan Sistemik
Menurutnya, konsumen listrik tidak hanya rumah tangga dan industri besar, tetapi juga pekerja sektor informal yang menggantungkan hidup dari listrik sebagai energi penggerak.
“Ini paradigma baru. Listrik bukan lagi sekadar penerangan, tapi alat produksi yang meningkatkan martabat dan produktivitas rakyat kecil,” kata dia.
Tohom juga menilai pengoperasian SPKLU R2 di wilayah seperti Jember, Malang, dan Gresik menunjukkan keseriusan PLN dalam membangun ekosistem kendaraan listrik secara merata, tidak terpusat di kota besar saja.
“Kalau ekosistem kendaraan listrik hanya tumbuh di kota metropolitan, itu namanya elitis. Tapi ketika becak listrik difasilitasi sampai daerah, itu baru transisi energi yang berkeadilan,” tegasnya.
Ia menambahkan, penggunaan aplikasi PLN Mobile untuk pengisian daya juga memberi edukasi digital bagi konsumen listrik di sektor informal.
Hal ini dinilai penting untuk meningkatkan literasi energi dan memastikan perlindungan konsumen berjalan seiring dengan kemajuan teknologi.
“Kami melihat ini sebagai investasi sosial jangka panjang. Konsumen dilibatkan, diedukasi, dan diberdayakan,” ujarnya.
Lebih jauh, Tohom menyebut becak listrik berpotensi menjadi ikon transportasi ramah lingkungan sekaligus daya tarik wisata, khususnya di kawasan heritage.
Menurutnya, manfaat lingkungan, ekonomi, dan sosial dari program ini saling terkait dan tidak bisa dipisahkan.
“Becak listrik adalah simbol bahwa energi bersih bukan milik segelintir orang, tetapi hak semua warga,” kata Tohom.
ALPERKLINAS pun mendorong agar program serupa direplikasi secara nasional dengan penguatan regulasi perlindungan konsumen listrik, termasuk jaminan keandalan pasokan, tarif yang adil, serta kemudahan akses infrastruktur pengisian daya.
“Kalau ini dijaga konsistensinya, Indonesia tidak hanya sukses transisi energi, tapi juga sukses menjaga keadilan sosial,” tutup Tohom.
Sebelumnya, General Manager PLN UID Jawa Timur Ahmad Mustaqir menyatakan PLN siap mendukung penuh infrastruktur kelistrikan agar becak listrik dapat dimanfaatkan secara optimal oleh para pengemudi.
Dukungan tersebut diwujudkan melalui pengoperasian SPKLU R2 serta kegiatan edukatif dan sosial, termasuk konvoi becak listrik pertama di Jember.
Wali Kota Malang Wahyu Hidayat menilai becak listrik memberikan pengalaman wisata yang lebih nyaman dan estetik karena bebas polusi, sementara Bupati Gresik Fandi Ahmad mengapresiasi perhatian Presiden Prabowo terhadap masyarakat kecil melalui bantuan becak listrik yang meringankan beban kerja pengemudi becak lanjut usia.
[Redaktur: Mega Puspita]