Ia juga melihat transformasi PLN menjadi perusahaan energi berbasis digital merupakan langkah yang relevan dengan arah perkembangan industri energi dunia yang semakin terintegrasi.
“PLN sekarang tidak lagi bergerak dalam pola lama. Mereka sedang membangun orkestrasi energi nasional dari hulu sampai hilir. Ketika energi primer, pembangkit, jaringan, hingga layanan pelanggan terhubung secara digital, maka efisiensi dan kecepatan layanan kepada masyarakat akan meningkat sangat signifikan,” jelasnya.
Baca Juga:
PLN UIP Sulawesi Gelar Upacara Harkitnas ke-118, Perkuat Semangat Kebangkitan Nasional
Tohom yang juga Ketua Umum PLN Watch ini mengatakan keberanian PLN EPI mengambil kontrak jangka panjang menunjukkan optimisme besar terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia dalam dua dekade mendatang.
“Kalau PLN berani mengamankan LNG sampai puluhan tahun ke depan, artinya ada keyakinan bahwa kebutuhan energi Indonesia akan terus tumbuh. Ini menunjukkan optimisme terhadap masa depan industri nasional dan pembangunan ekonomi Indonesia,” ujarnya.
Ia berharap kolaborasi strategis seperti ini terus diperluas agar Indonesia tidak hanya menjadi pasar energi, tetapi juga mampu menjadi kekuatan energi regional berbasis sumber daya domestik dan teknologi modern.
Baca Juga:
Data Center Tumbuh di Tangsel, PLN Pastikan Keandalan Sistem untuk Dukung Investasi Digital
Sebelumnya, PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) menandatangani dua perjanjian jual beli LNG dan dua perjanjian jual beli gas dalam ajang IPA Convex 2026.
Kerja sama tersebut mencakup kontrak LNG dengan South Hub LNG di Kalimantan Timur periode 2027–2037 dan kerja sama LNG dengan Masela PSC Contractor Parties selama 15 tahun sejak proyek beroperasi sekitar 2032.
Direktur Utama PLN, Darmawan Prasodjo mengatakan PLN kini bertransformasi menjadi perusahaan energi berbasis digital melalui penguatan ekosistem energi primer, pembangkitan, hingga pelayanan pelanggan.